Tampilkan postingan dengan label Tinjauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tinjauan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

“Tarian Ilalang”: Dinamis dan Kokoh

(Ulasan yang disampaikan dalam acara Launching Buku Antologi Puisi Tarian Ilalang
di PDS HB Jassin, Jakarta, Sabtu, 15 Mei 2010)

Tarian Ilalang, sebuah judul buku yang menarik. Kemudian terbayang di benak tentang sekumpulan ilalang , tampak rapuh namun tegak dan oleh angin mereka bergerak sangat dinamis, teratur dan mampu bertahan dalam kekeringan. Ilalang serupa kecemasan sekaligus harapan abadi manusia.

Tarian Ilalang, adalah sebuah buku antologi puisi. Antologi secara harfiah diturunkan dari kata bahasa Yunani yang berarti “karangan bunga” atau “kumpulan bunga”, adalah sebuah kumpulan dari karya-karya sastra. Sementara kata puisi, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat.

Kita bisa menyebut beberapa nama: Samuel Taylor Coleridge, Wordsworth, atau Dunton yang memiliki pendapatnya masing masing tentang puisi. Demikian juga kita, setelah menciptakan puisi dengan menjalani proses prosesnya, maka menurut saya puisi adalah merupakan sublimasi gerak perasaan dan pikiran yang terekam dalam kata kata. Sublimasi yang saya maksud tentu saja semacam perenungan/pengendapan yang melahirkan bentuk baru setelah penghayatan.

Dengan kata lain puisi bisa berupa “potret kata kata” atas diri kita atau di luar itu yang berhasil ditangkap dengan mata dan rasa kemudian terolah di dalam bathin, hingga melahirkan pikiran atau gagasan gagasan tentang hal itu di dalam sebuah frame.
Tarian Ilalang, antoloi puisi oleh Adrian Kelana, Arther Panther Olii, Atan Wira Bangsa, Bagus Prana, Faris Al Farisi, Geg Neka, Ira Ginda, Joezefhine Zejoe, Lina Kelana, dan Windy Aurora.

1. Adrian Kelana, dalam pengelanaannya ia menguatkan jejaknya atas asa ( Secawan Anggur Rajahan, hal. 4) dan cinta kepada sesama ( Kemana Asap Tungku Itu, hal. 8 ) juga harapannya (Musafir Kelana, hal 10).

2. Arther Panther Olii, berhasil menggali kepedihannya hingga terasa begitu kental namun mengiris dengan sangat halus pada liris penutupnya : O, tidakkah kalian lihat telah lahir sajak paling pedih dari bening mataku? ( Dan Lahirlah Sajak Paling Pedih Dari Bening Mataku, hal. 18).

3. Safwan Nizar – Athan Wira Bangsa, menghidupkan sajak sajaknya dari perenungan yang digali antara dunia dalam bawah sadar dan dunia dalam kesadaran serta mengantar kita untuk merunduk lebih dalam atas keagungan Illahi ( Aku Mencari-Mu, hal. 26) dan (Tuhan dan Rabi, hal. 27).

4. Bagus Prana, menulis rasa kehilangan dan pencarian akan cinta kasih yang lengkap tak terbelah, menyentuh rasa kemanusiaan kita (Syair Sebuah Balada, Hal. 37) , (Terlepas Sebuah Tanya, hal. 38) dan (Janji Dermaga Biru, hal. 40).

5. Faris Al Farisi, dialog ringan kerap kita temukan pada sajak sajaknya, dan itu membentuk keunikan dalam imaji yang kental (Kremasi, hal. 45) dan (Tentang Batu 4, hal. 50).

6. Geg Neka, sajak sajaknya kerap irit diksi namun lincah dan memiliki makna pada keseluruhan bangunan puisinya. Sajaknya sangat dinamis, enerjik ( Pikiran, hal. 57), (Gelembung, hal. 58) dan tegas dalam lembutnya ( Lembayung, hal. 61).

7. Ira Ginda, nuansa gothic begitu kental membungkus pada kebanyakan puisinya, namun ia mampu membuat imaji imaji dalam gelap itu menjadi nyata di benak kita. Nuansa Romantika Gothic; yang mengungkapkan dunia cinta secara sensual dimana bisa menghasilkan jalinan yang kuat atau kadang tragis menyembul dari imaji imajinya (Kisah Rembulan Buta, hal. 65) dan (Pelacur Di Antara Kedua Kakimu, hal. 71). Dalam nuansa kelam itu Ira juga mampu memberi imaji yang lembut di dalam kehangatan yang miris (Secawan Teh Hangat, hal. 70) , (Jawabmu Sunyi, hal. 68) dan (Pangiilan Moksa, hal. 67)

8. Joezefhine Maria – Joezefhine Zejoe, cinta adalah nafas terkuat yang hadir dalam sajak-sajaknya. Menegaskan cinta meski terabaikan, bagi kekasih, bagi sesama dan bagi orang orang yang kehilangan (Berkata Waktu Yang Akan Datang, hal.76), (Aksara Tuk Sahabat, hal.78) dan (Bocah Bocah Kolong, hal. 79).

9. Lina Kelana, dalam beberapa puisinya ia berani menggunakan diksi yang cukup tabu, hingga kita merasakan amarah mengalir dari beberapa puisinya (Arumi, hal.85), (Di Kesempuranaan Ini Tuhan Tak Lagi Bermaterai, hal. 90) . Namun juga Lina mampu mencipta imaji yang indah lewat diksi diksi santun dan lembut menyentuh (Dawai Getar Hati, hal. 88) dan (Engkau dan Selembar Kisah, hal. 91).

10. Eka Yuli Windya Astuti- Windy Aurora,
Windy mengolah tema maut dengan pilihan metafora unik, yaitu perjalanan kereta api (Pulang Naik Kereta, hal. 104). Maut merupakan tema yang menghantui puisi-puisi Windy, sebagai ujung dari perjalanan waktu yang tidak tercegah, sebagaimana yang tersirat dalam puisi Kertas (hal. 97) dan Lapuk (hal. 105).

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa semua penyair di atas mengangkat tema tema yang sama tentang cinta, sepi, kehilangan juga harapan tetapi hasilnya akan tetap berbeda sebab masing masing memiliki personalitas yang ditentukan dari daya kreatifitas mereka dimana puisi merupakan manifestasi langsung dari metabolisme mental.*

(Susy Ayu)

Minggu, 06 Mei 2012

Membaca Puisi Kurniawan Junaedhie

Buku kumpulan puisi seorang Kurniawan Junaedhie berjudul “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” tengah terbuka di atas meja tulisku. Buku yang disampaikan oleh penulisnya pada sebuah rumah makan yang kami singgahi beberapa waktu lalu. Sungguh ini adalah sebuah buku yang tak pernah bosan kubaca. Maka ketika membacanya untuk kesekian kali ada perasaan yang cukup mengganggu hati. Sel sel kelabu di kepala segera cepat mengambil tindakan untuk mencegah ganjelan itu menyebar ke seluruh persendianku. Bikin aku lungkrah. Satu-satunya penyembuh hanya dengan cara menuliskannya, maka jadilah kutulis suatu perasaan yang begitu kuat tentang buku itu.

Membaca puisi KJ, aku seperti diajak menelusuri sebuah tempat dan suasana yang pernah kulewati yang sepenuhnya berisi benda benda yang tidak menyita perhatianku; cangkir, serbuk kopi, gula, air panas, termos, kamar, cafĂ©, tiang listrik, dan sebagainya. Tetapi entah ketika membaca puisi KJ, aku seperti bibawa kembali ke tempat tempat itu..dan diajaknya aku melihat benda benda yang sebelumnya tak menyita perhatian menjadi sesuatu yang demikian menarik dan membekas. Astaga….betapa cantiknya semua benda itu kau lekuk lekuk menjadi berbagai bentuk tanpa kehilangan keasliannya. Aku pernah bilang begitu, dan dia hanya tersenyum.

Kupikir KJ tidak memandang sesuatu sebagai apa, tetapi bagaimana. Seperti itulah yang tergambar kemudian di seluruh puisi puisinya. Pada puisinya “Perempuan dalam Secangkir Kopi 1 dan 2 “ kita bisa melihat betapa lihainya dia memainkan secangkir kopi di dalam genggamannya, membentuknya menjadi sebuah wadah serupa hatinya. Lalu perempuan itu berenang di sana, memunculkan semacam godaan dan daya tarik yg timbul di dalam hatinya. Juga bagaimana sendok kecil itu dia gunakan untuk mengaduk seorang perempuan agar menyelam makin dalam ke dalam lubuk kopi. Lubuk hatinya.

Bagi beberapa penyair, (entah itu anak bawang atau sudah kawakan) biasanya akan melukiskan tentang ingatannya terhadap seseorang dengan cara begitu saja. Seperti sebuah frame lalu seseorng muncul begitu saja di tempat yang abstrak..mungkin melayang di udara, di benak , dengan serangkaian kata kata indah penghias taman…Namun tidak bagi KJ. Dia bisa meletakkanmu di mana saja, di dalam sebuah benda yang tidak abstrak, benda yang ada di sekitar kita, di dalam cangkir (“perempuan dalam Secangkir Kopi 1-2” hal 1&2), di atas mesin photo copy ( “ Keroncong Kebayoran” hal.18-19) atau ke dalam bubu ( “Kau, ikan & Nelayan” hal. 6). Lalu kita merasa benar benar berada di dalamnya lengkap dengan suasana kopi, lalu tertempa cahaya mesin photocopy, juga sesak di dalam bubu. Kita akan diletakkan pada tempat yang benar benar benda…bukan sesuatu yang abstrak, namun di tempat tempat yang tidak terduga.

Membaca puisi KJ. Aku menangkap aura kesederhanaan, tentu saja dari hatinya, seperti halnya kita menulis dengan hati. Tidak ada yang muluk muluk dari puisi puisinya, dengan kata lain puisi puisi itu tidak dibangun dengan konsep puitika yang njelimet dan rumit namun dibentuk dari putika yang sederhana, jernih sehingga gagasan dari penyairnya tersampaikan secara komunikatif. Sebab seringkali penyair terpaku pada diksi diksi yang dipercantik sedemikian rupa sehingga penyairnya terjebak pada metafor-metafornya sendiri, kemudian puisi menjadi kebingungan mencari arah dalam menyampaikan makna dan pesan.

Ini menimbulkan kesimpulan yang kutarik sendiri, bahwa kita tidak perlu mati-matian mencari puitik dalam kalimat, namun membangun puitik itu pada keseluruhan puisi.

Puisi-puisi KJ memang terasa bening, sehingga kita dengan mudah melihat kedalaman hingga dasarnya. Seperti sebuah frame yang berisi nama-nama, sosok sosok pada suatu waktu dan tempat. Kulihat KJ sangat menghargai hubungan dengan orang orang di sekitarnya, bahkan menjadikan itu salah satu elemen yang sangat berarti dalam hidupnya. Secara tematik, puisi puisi KJ menghadirkan kesendirian, kesunyian, kesedihan, juga cinta yang meluap. Tema tema itu begitu kuat getarnya namun tidak diolah dengan pengungkapan yang cengeng.

Puisi puisi KJ juga mengandung aura erotik diperdalam dengan konstruksi imajinasi. Cumbu yang bagi KJ adalah suatu bangunan yang layak ditulis dalam pencitraan atas rasa cinta pada puncaknya. Begitulah apresiasi KJ terhadap keindahan atas dorongan hasrat yang kuat, di mana nafas nafas birahi itu dikemas dengan halus dengan cita rasa hingga tidak vulgar yang bisa berkembang ke arah pornografi.

Membaca puisi KJ, tidak ada halaman yang kubaca sambil lalu. Selalu ada rasa yang berbeda pada tiap puisinya, seperti pulasan warna warna yang mampu memberi paduan dominasi warna berbeda pada masing masing kanvas.

Kita tidak perlu harus mengenal siapa dan bagaimana Kurniawan Junaedhie tapi memiliki buku puisinya adalah seperti terbawa pada dunia yang tidak bisa kita temui di peta manapun. Tidakkah menarik untuk sebuah petualangan imajinasi yang menginspirasi?

Kurniawan Junaedhie telah berada di dalam elemennya, sehingga bilah bilah jarinya mencipta puisi-puisi yang bercahaya. ***

Susy Ayu (penikmat sastra, bukan pengamat)
Maret 2010

Semua puisinya kusuka, tapi akan kubawa satu puisinya ke sini yang menjadi inspirasi untuk judul buku ini

PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI (2)

- sa

Aku ingin sekali bisa mengapung sembari berenangan di dalam kopimu. Kubayangkan, betapa nikmatnya hidup dipermainkan air yang gelap dan pahit sambil diguncang-guncang oleh sendokmu. Aku akan menukik, menyelam dan menggapai tanganmu lalu sesekali, sambil berkecipakan di dalam air yang hangat itu aku akan mencium bibirmu di pinggir cangkir. Tak ada yang bisa cemburu. Juga air ludah dan lendir di mulutmu.

Aku suka caramu memasukkan gula pasir ke cangkir dan menyedunya dengan air. Aku suka caramu membaui kehangatan air kopi dan caramu mencecap dengan lidahmu. Kamu paling akan bertanya, sejak kapan kamu suka berenang? Aku akan menjawab, sejak kamu suka menjerang air, dan menuangkannya ke dalam termos. Di tengah hidup yang pahit, aku senang menyelam ke dalam kopi bersama seorang perempuan yang hangat. Tak ada yang bisa cemburu. Juga sendok dan piring kecil dekat cangkirmu.

Olala, Bintaro, Okt. 2009
Kurniawan Junaedhie