setelah puing, setelah asap
setelah tak seorangpun
seorang nenek digendong relawan
ia enggan tak mau pergi
kula mriki mawon
setelah seismologi dan laporan cuaca
setelah early warning system dan disaster management
seorang nenek bersikeras
ia tak beradu pendapat, ia diam
mungkin ada yang tak kita mengerti
pejah gesang kersane Gusti
seorang nenek di kaki Merapi
diusir dari gagasannya
sebab orang tak mau ia seperti Mbah Maridjan
yang kata seorang ustadz
mendzalimi dirinya sendiri
seorang nenek di puing Merapi
berharap menutup wajah dengan kain
berbaring menghadap wuwungan
sembari menyapa maut
dan di gedung kesenian
para penyair berkumpul
membacakan sajak-sajak kepedihan melipur lara
sambil lupa bertanya pada si Nenek
apa sesungguhnya arti selamat
Susy Ayu
Nov 2010
dimuat dalam buku antologi puisi "Merapi Gugat"
Tampilkan postingan dengan label Buku-Buku Susy Ayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku-Buku Susy Ayu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Mei 2012
Takluk
seutas g stringku
kau akui adalah mata rantai hilang, yang diburu darwin;
sebab aku adalah manusia yang bermula di Baqqah
dari tanah yang ditiupkan ruh di bentang langit
kau akui
khotbah-khotbahmu telah rubuh di bawah rentang kakiku
kerajaan-kerajaanmu cuma selintas bau samudra
mengingatkan pada keberadaanmu sebagai makhluk pra ampibi,
jauh sebelum mamalia-mamalia merangkak di daratan,
dan kau belum lagi menyusu dari dadaku
kau takluk pada seutas g stringku ***
12 Juni 2010
dimuat dalam buku antologi puisi tunggalku "Rahim Kata-Kata"
kau akui adalah mata rantai hilang, yang diburu darwin;
sebab aku adalah manusia yang bermula di Baqqah
dari tanah yang ditiupkan ruh di bentang langit
kau akui
khotbah-khotbahmu telah rubuh di bawah rentang kakiku
kerajaan-kerajaanmu cuma selintas bau samudra
mengingatkan pada keberadaanmu sebagai makhluk pra ampibi,
jauh sebelum mamalia-mamalia merangkak di daratan,
dan kau belum lagi menyusu dari dadaku
kau takluk pada seutas g stringku ***
12 Juni 2010
dimuat dalam buku antologi puisi tunggalku "Rahim Kata-Kata"
Rabu, 09 Mei 2012
Catatan Seno Gumira Pada Buku Cerpen "Perempuan Di Balik Kabut"
Demikianlah disebutkan, bahwa pertanyaan esensial bukan lagi penulis dan tulisan, melainkan menulis dan membaca. Dalam konsep ini, perhatian kepada penulis dijauhkan sebagai sumber makna, seperti juga tulisan sebagai objek, dan sebagai gantinya perhatian dipusatkan kepada dua jaringan kebiasaan yang berkorelasi: menulis sebagai suatu institusi dan membaca sebagai suatu kegiatan.
Dengan pengantar sependek ini, izinkanlah saya langsung mengeluarkan Susy Ayu sebagai subjek individual dalam perbincangan, karena ketika bahkan tulisan ditolak menjadi objek, yang tersisa hanyalah subjek sosial yang berbicara dalam tulisan, yang hanya akan muncul dalam pembacaan saya ketika kembali, lagi-lagi sebagai tulisan—yang sekali lagi hanya akan ter/di-hidupkan dalam pembacaan. Itulah, pembacaan dan penulisan adalah suatu proses yang maknanya terus menerus berubah, sementara penulis hanyalah medium—ibarat dukun kemasukan roh yang akan berbicara bukan atas nama dirinya pribadi—dan tulisan hanyalah jejak, satu-satunya jejak dan bukan kenyataan itu sendiri.
Jejak sebagai artefak kebudayaan? Tentu. Namun kebudayaan macam apa? Di sanalah akan terjejaki pergulatan antarwacana. Sejauh bisa saya klebet kumpulan cerpen Perempuan di Balik Kabut ini, dan bukannya sisir seperti—yang seharusnya—menyisir kutu, maka pergulatan yang untuk sementara ini menonjol untuk dijejaki adalah pergulatan antara wacana cinta dan wacana birahi.
Baiklah saya ungkapkan saja sejumlah sample hasil peng-klebet-an itu:
… lingerie yang selalu baru untuk menyita perhatianmu, berusaha keras melahap pengetahuan bersetubuh dengan gaya baru untukmu. Namun, kita bukan suami istri, aku hanya simpananmu….(“Langit Sephia Berbingkai Jendela”)
Namun tahukah kau, Zal. Aku pun bisa hamil. Aku pernah hamil! Laki-laki teman seragam abu-abuku dulu yang melakukannya, di saat kami berdua melayang di tengah asap putaw. / Aku juga perempuan sejati, bisa hamil seperti Dewimu. Aku pun memiliki cinta yang tulus, seperti Dewimu. (“Tiket Sekali Jalan”)
Bercinta di tepi pantai adalah impianku, Mas. Penyatuan jiwa dan cinta dengan suasana yang begitu hangat. Hal itu terasa indah bila dilakukan dengan orang yang paling tercinta. Berpelukan mesra, saling berbisik, bercumbu dengan sayang… lalu kita bercinta dengan penuh gelora…..(“Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai”)
“Ssst. Sabtu dan Minggu depan. Aku sudah pamit kepada istriku, aku hendak dinas ke luar kota. Bisakah kau?” Aku bergairah membaca pesannya./ Kali ini jariku mengetik pesan untuk orang lain, “Ma, aku baru dapat tugas untuk ke luar kota pada Sabtu dan Minggu depan.” Pesanku itu sampai ke ponsel istriku. (“Borges dan Labirinku”)
Dia menyerah, tetapi tidak sinar matanya. Tubuhnya terbuka tanpa perlawanan, kelopaknya tersibak, setengah megap-megap dia menyusun kata-kata.
“Silakan kalau kau mau. Setelah ini jangan pernah berharap untuk ketemu aku lagi. Aku akan berdoa, kamulah laki-laki terakhir yang paling kubenci.”/ “Tidak dengan ini karena aku mulai mencintaimu,” suaranya parau, kupikir matanya basah. (“Perempuan di Balik Kabut”)
Kutunjukkan pada laki-laki… aku masih saja bisa nikmat meski tidak lagi perawan! (“Rahasia Hati”)
….., di usiaku yang ke-36, susuku masih sekencang delima, hanya saja dengan suami megap-megap macam ini aku merasa agak tersinggung. Tapi ia sekarat, aku bisa melihatnya. / Perasaanku berdebar. Di balik pintu, kekasihku menunggu dengan simpati yang sempurna. Selama suamiku menarik napasnya satu-satu dalam 18 jam ini, ia telah menyentuhkan telapak tangannya yang terasa hangat empat kali ke pinggulku, meremasnya / Ia tahu itu menciptakan perasaan riang yang bergelora dalam diriku. Usianya 27 tahun. Mengingat staminanya yang kuukur secara rahasia lewat penyelinapan-penyelinapan kami, aku bisa merasakan, waktu sekaratnya masih lama lagi. (“Nota Perkawinan”)
Dalam birahi, kehidupan dan kematian bersatu. Dalam birahi, kau dan aku cabar seperti kabut. Dalam birahi, aku lenyap dalam dirimu. Maka perempuan, susui aku lagi. Biar kusesap habis dirimu, sebab dinamakannya kau Hawa, lantaran kau adalah ibu dari segala kehidupan. (“Kunamai Kau Kenangan”)
Dari 12 cerita pendek, jika setidaknya delapan di antaranya mengungkap artefak semacam ini, kiranya sahih untuk berbincang, antara wacana birahi dan wacana cinta, bagaimana keduanya telah bergulat?
Sebelum itu, tentu mesti saya rentangkan lebih dahulu konstruksi oposisional keduanya dalam wacana dominan, yakni bahwa birahi selalu disamakan dengan nafsu seksual, dan dengan itu akan selalu mengotor-ngotori kesucian cinta—sedangkan cinta itu sendiri hanya sahih dalam mahligai perkawinan. Di luar lembaga pengesahan hubungan seksual tersebut, dengan atau tanpa cinta, hubungan tersebut bermasalah, bahkan resminya ‘taksuci’ lagi.
Maka, kerangka konstruksi wacana dominan tersebut tentu seperti berikut:
Cinta = Suci = Perkawinan >< Birahi = Taksuci = Luar-Perkawinan
Sekarang, jika kita ikuti hasil pengujian dengan ‘teori’ semacam itu, hasilnya adalah seperti berikut:
1. “Langit Sephia Berbingkai Jendela” – Birahi/Taksuci/Luar-Perkawinan = Cocok
2. “Tiket Sekali Jalan” – Birahi/Taksuci/Luar-Perkawinan = Cocok
3. “Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
4. “Borges dan Labirinku” – Cinta/Birahi/Luar-Perkawinan = Takcocok
5. “Perempuan di Balik Kabut” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
6. “Rahasia Hati” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
7. “Nota Perkawinan” – Cinta/Birahi/Luar-Perkawinan = Takcocok
8. “Kunamai Kau Kenangan” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
Pembaca tentu harus mencocokkan lagi simpulan serba sementara ini dengan cerita pendeknya secara utuh, karena yang saya ambil adalah moralitasnya—sehingga bisa saja pasangan dalam cerita tersebut memang belum menikah, seperti dalam “Perempuan di Balik Kabut”, tetapi ketika tokoh perempuannya menolak penerusan hubungan seksual, meski sudah tenggelam dalam birahi, justru karena cinta, itu berarti ia menghendaki perkawinan bagi pengesahan cinta plus birahinya tersebut.
Dalam “Borges dan Labirinku” para pelaku yang berselingkuh, dengan cinta, sama-sama beristri (= keduanya pria)—ini tidak mengubah konstruksi oposisional dalam wacana dominan yang diujikan kepadanya, yang ternyata memang takcocok.
Sementara dalam “Rahasia Hati”, suatu pernikahan batal karena faktor takperawan, tetapi pendapat bahwa faktor itu takberpengaruh pada kenikmatan seksual, jelas membenarkan kesahihan birahi dalam cinta dan perkawinan, alias takcocok dengan konstruksi oposisional wacana dominan, yang dalam peng-klebet-an-rada-serabutan ini tampaknya sudah takdominan lagi—karena hanya dua cerita yang memenuhi kecocokannya.
Dalam konstruksi wacana yang sudah takcocok pada enam cerita, meski sama-sama takcocok, terdapat berbagai varian, misalnya bahwa ternyata ketakcocokan meleburnya cinta (=suci) dan birahi (=taksuci) bisa terdapat di luar maupun di dalam lembaga perkawinan itu sendiri.
Sedangkan yang menyamakan keenam-enamnya, justru peleburan cinta dan birahi tersebut. Bolehkah yang suci itu sekaligus bernafsu birahi? Dalam konteks hubungan seksual, tampaknya justru konstruksi wacana inilah yang sekarang dominan, menggantikan konstruksi oposisional sebelumnya, bahwa cinta yang suci terpisahkan dari birahi yang taksuci.
Disimpulkan kembali, bukan lembaga perkawinan yang menjadi faktor pengesahan hubungan seksual—kali ini selalu dengan birahi—melainkan cinta. Apakah harus kita sebut lembaga cinta? Barangkali tidak, sebab ketika cinta dilembagakan, ia akan berhenti sebagai cinta… Seperti banyak perkawinan yang berhasil melembagakan hubungan seksual, tetapi gagal menghidupkan cinta itu sendiri, yang pada gilirannya mematikan segala-galanya.
Yang suci memang cinta, di dalam maupun di luar lembaga perkawinan, seperti yang secara dominan merupakan wacana dalam kumpulan cerita Perempuan di Balik Kabut ini—sampai artefak kebudayaan lain menggugurkannya.
Seperti juga mitos, bahwa hanya perempuan yang bisa hamil layak disebut perempuan sejati dalam cerita “Tiket Sekali Jalan”, yang telah gugur, tidak ada yang abadi di dunia ini—sehingga jika cinta tetap ingin bertahan, memang harus selalu diperjuangkan kembali, lagi, lagi, dan lagi…
Salam.
Seno Gumira Ajidarma
Kampung Utan, Selasa 18 Oktober 2011
Dengan pengantar sependek ini, izinkanlah saya langsung mengeluarkan Susy Ayu sebagai subjek individual dalam perbincangan, karena ketika bahkan tulisan ditolak menjadi objek, yang tersisa hanyalah subjek sosial yang berbicara dalam tulisan, yang hanya akan muncul dalam pembacaan saya ketika kembali, lagi-lagi sebagai tulisan—yang sekali lagi hanya akan ter/di-hidupkan dalam pembacaan. Itulah, pembacaan dan penulisan adalah suatu proses yang maknanya terus menerus berubah, sementara penulis hanyalah medium—ibarat dukun kemasukan roh yang akan berbicara bukan atas nama dirinya pribadi—dan tulisan hanyalah jejak, satu-satunya jejak dan bukan kenyataan itu sendiri.
Jejak sebagai artefak kebudayaan? Tentu. Namun kebudayaan macam apa? Di sanalah akan terjejaki pergulatan antarwacana. Sejauh bisa saya klebet kumpulan cerpen Perempuan di Balik Kabut ini, dan bukannya sisir seperti—yang seharusnya—menyisir kutu, maka pergulatan yang untuk sementara ini menonjol untuk dijejaki adalah pergulatan antara wacana cinta dan wacana birahi.
Baiklah saya ungkapkan saja sejumlah sample hasil peng-klebet-an itu:
… lingerie yang selalu baru untuk menyita perhatianmu, berusaha keras melahap pengetahuan bersetubuh dengan gaya baru untukmu. Namun, kita bukan suami istri, aku hanya simpananmu….(“Langit Sephia Berbingkai Jendela”)
Namun tahukah kau, Zal. Aku pun bisa hamil. Aku pernah hamil! Laki-laki teman seragam abu-abuku dulu yang melakukannya, di saat kami berdua melayang di tengah asap putaw. / Aku juga perempuan sejati, bisa hamil seperti Dewimu. Aku pun memiliki cinta yang tulus, seperti Dewimu. (“Tiket Sekali Jalan”)
Bercinta di tepi pantai adalah impianku, Mas. Penyatuan jiwa dan cinta dengan suasana yang begitu hangat. Hal itu terasa indah bila dilakukan dengan orang yang paling tercinta. Berpelukan mesra, saling berbisik, bercumbu dengan sayang… lalu kita bercinta dengan penuh gelora…..(“Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai”)
“Ssst. Sabtu dan Minggu depan. Aku sudah pamit kepada istriku, aku hendak dinas ke luar kota. Bisakah kau?” Aku bergairah membaca pesannya./ Kali ini jariku mengetik pesan untuk orang lain, “Ma, aku baru dapat tugas untuk ke luar kota pada Sabtu dan Minggu depan.” Pesanku itu sampai ke ponsel istriku. (“Borges dan Labirinku”)
Dia menyerah, tetapi tidak sinar matanya. Tubuhnya terbuka tanpa perlawanan, kelopaknya tersibak, setengah megap-megap dia menyusun kata-kata.
“Silakan kalau kau mau. Setelah ini jangan pernah berharap untuk ketemu aku lagi. Aku akan berdoa, kamulah laki-laki terakhir yang paling kubenci.”/ “Tidak dengan ini karena aku mulai mencintaimu,” suaranya parau, kupikir matanya basah. (“Perempuan di Balik Kabut”)
Kutunjukkan pada laki-laki… aku masih saja bisa nikmat meski tidak lagi perawan! (“Rahasia Hati”)
….., di usiaku yang ke-36, susuku masih sekencang delima, hanya saja dengan suami megap-megap macam ini aku merasa agak tersinggung. Tapi ia sekarat, aku bisa melihatnya. / Perasaanku berdebar. Di balik pintu, kekasihku menunggu dengan simpati yang sempurna. Selama suamiku menarik napasnya satu-satu dalam 18 jam ini, ia telah menyentuhkan telapak tangannya yang terasa hangat empat kali ke pinggulku, meremasnya / Ia tahu itu menciptakan perasaan riang yang bergelora dalam diriku. Usianya 27 tahun. Mengingat staminanya yang kuukur secara rahasia lewat penyelinapan-penyelinapan kami, aku bisa merasakan, waktu sekaratnya masih lama lagi. (“Nota Perkawinan”)
Dalam birahi, kehidupan dan kematian bersatu. Dalam birahi, kau dan aku cabar seperti kabut. Dalam birahi, aku lenyap dalam dirimu. Maka perempuan, susui aku lagi. Biar kusesap habis dirimu, sebab dinamakannya kau Hawa, lantaran kau adalah ibu dari segala kehidupan. (“Kunamai Kau Kenangan”)
Dari 12 cerita pendek, jika setidaknya delapan di antaranya mengungkap artefak semacam ini, kiranya sahih untuk berbincang, antara wacana birahi dan wacana cinta, bagaimana keduanya telah bergulat?
Sebelum itu, tentu mesti saya rentangkan lebih dahulu konstruksi oposisional keduanya dalam wacana dominan, yakni bahwa birahi selalu disamakan dengan nafsu seksual, dan dengan itu akan selalu mengotor-ngotori kesucian cinta—sedangkan cinta itu sendiri hanya sahih dalam mahligai perkawinan. Di luar lembaga pengesahan hubungan seksual tersebut, dengan atau tanpa cinta, hubungan tersebut bermasalah, bahkan resminya ‘taksuci’ lagi.
Maka, kerangka konstruksi wacana dominan tersebut tentu seperti berikut:
Cinta = Suci = Perkawinan >< Birahi = Taksuci = Luar-Perkawinan
Sekarang, jika kita ikuti hasil pengujian dengan ‘teori’ semacam itu, hasilnya adalah seperti berikut:
1. “Langit Sephia Berbingkai Jendela” – Birahi/Taksuci/Luar-Perkawinan = Cocok
2. “Tiket Sekali Jalan” – Birahi/Taksuci/Luar-Perkawinan = Cocok
3. “Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
4. “Borges dan Labirinku” – Cinta/Birahi/Luar-Perkawinan = Takcocok
5. “Perempuan di Balik Kabut” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
6. “Rahasia Hati” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
7. “Nota Perkawinan” – Cinta/Birahi/Luar-Perkawinan = Takcocok
8. “Kunamai Kau Kenangan” – Cinta/Birahi/Perkawinan = Takcocok
Pembaca tentu harus mencocokkan lagi simpulan serba sementara ini dengan cerita pendeknya secara utuh, karena yang saya ambil adalah moralitasnya—sehingga bisa saja pasangan dalam cerita tersebut memang belum menikah, seperti dalam “Perempuan di Balik Kabut”, tetapi ketika tokoh perempuannya menolak penerusan hubungan seksual, meski sudah tenggelam dalam birahi, justru karena cinta, itu berarti ia menghendaki perkawinan bagi pengesahan cinta plus birahinya tersebut.
Dalam “Borges dan Labirinku” para pelaku yang berselingkuh, dengan cinta, sama-sama beristri (= keduanya pria)—ini tidak mengubah konstruksi oposisional dalam wacana dominan yang diujikan kepadanya, yang ternyata memang takcocok.
Sementara dalam “Rahasia Hati”, suatu pernikahan batal karena faktor takperawan, tetapi pendapat bahwa faktor itu takberpengaruh pada kenikmatan seksual, jelas membenarkan kesahihan birahi dalam cinta dan perkawinan, alias takcocok dengan konstruksi oposisional wacana dominan, yang dalam peng-klebet-an-rada-serabutan ini tampaknya sudah takdominan lagi—karena hanya dua cerita yang memenuhi kecocokannya.
Dalam konstruksi wacana yang sudah takcocok pada enam cerita, meski sama-sama takcocok, terdapat berbagai varian, misalnya bahwa ternyata ketakcocokan meleburnya cinta (=suci) dan birahi (=taksuci) bisa terdapat di luar maupun di dalam lembaga perkawinan itu sendiri.
Sedangkan yang menyamakan keenam-enamnya, justru peleburan cinta dan birahi tersebut. Bolehkah yang suci itu sekaligus bernafsu birahi? Dalam konteks hubungan seksual, tampaknya justru konstruksi wacana inilah yang sekarang dominan, menggantikan konstruksi oposisional sebelumnya, bahwa cinta yang suci terpisahkan dari birahi yang taksuci.
Disimpulkan kembali, bukan lembaga perkawinan yang menjadi faktor pengesahan hubungan seksual—kali ini selalu dengan birahi—melainkan cinta. Apakah harus kita sebut lembaga cinta? Barangkali tidak, sebab ketika cinta dilembagakan, ia akan berhenti sebagai cinta… Seperti banyak perkawinan yang berhasil melembagakan hubungan seksual, tetapi gagal menghidupkan cinta itu sendiri, yang pada gilirannya mematikan segala-galanya.
Yang suci memang cinta, di dalam maupun di luar lembaga perkawinan, seperti yang secara dominan merupakan wacana dalam kumpulan cerita Perempuan di Balik Kabut ini—sampai artefak kebudayaan lain menggugurkannya.
Seperti juga mitos, bahwa hanya perempuan yang bisa hamil layak disebut perempuan sejati dalam cerita “Tiket Sekali Jalan”, yang telah gugur, tidak ada yang abadi di dunia ini—sehingga jika cinta tetap ingin bertahan, memang harus selalu diperjuangkan kembali, lagi, lagi, dan lagi…
Salam.
Seno Gumira Ajidarma
Kampung Utan, Selasa 18 Oktober 2011
Peluncuran Buku Puisi Susy Ayu: Kata-kata yang Menciptakan Dunia Sendiri
JAKARTA, KOMPAS.com--Kekuatan Susy Ayu terletak pada daya serapnya terhadap ilmu pengetahuan dan penghayatannya pada kehidupan. Demikian pendapat sastrawan Eka Budianta tentang buku kumpulan puisi tunggal Susy Ayu yang berjudul “Rahim Kata-Kata” yang diluncurkan di PDS HB Jassin, Sabtu 19 Juni lalu.
Dalam makalah setebal 10 halaman, yang berjudul “Puisi Sosiokultural Susy Ayu”, Eka menunjuk puisi-puisi Susy yang mengajak pembaca berkenalan dengan Putri Pembayun, Dewi Drupadi, Maria Magdalena, Hercules, Old Shuterhand, dan seterusnya. “Susy Ayu sangat ahli membuka dialog melalui celah-celah referensi seperti itu,” ujarnya. Sementara dalam puisi Rengganis yang tak dimuat dalam buku ini Eka tak kurang-kurang memuji, alangkah kaya dan luasnya pemandangan yang dapat diungkap hanya melalui sebaris atau dua baris puisi Susy Ayu. “Dengan puisi ia telah membuktikan bahwa kata-kata dapat menciptakan jagad tersendiri untuk berbagi,” tambahnya. Susy dengan bakat dan intelektualitasnya telah membagikan berbagai aspirasi melalui puisinya.
Susy Ayu adalah salah seorang penyair yang sebelumnya banyak menulis melalui Fecabook. Sebelumnya, karya-karyanya dimuat dalam antologi puisi 10 penyair Facebook “Merah Yang Merah”, dan “Perempuan dalam Sajak”. Buku “Rahim Kata-Kata” adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama. Buku setebal 52 halaan itu, dieditori oleh Kurniawan Junaedhie, dan diberi endorsement oleh Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noor dan Kurnia Effendi.
Acara peluncuran dan diskusi buku kumpulan puisi itu sendiri, dihadiri para penyair dan seniman dari berbagai angkatan seperti Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Remmy Novaris DM, Kurnia Effendi, Ana Mustamin dll. Acara itu digelar di PDS HB Jassin, TIM, Sabru 19 Juni 2010. Tampil membacakan puisi antara lain penyair Kurniawan Junaedhie, Shinta Miranda, Nona Muchtar dan lain-lain.
Saat ini penyair perempuan sangat sedikit, sehingga pesaing Susy untuk menjadi penyair perempuan andal terbuka lebar, demikian Eka.***(Ist)
Jodhi Yudono | Senin, 21 Juni 2010
http://oase.kompas.com/read/2010/06/21/02041265/Kata.kata.yang.Menciptakan.Dunia.Sendiri
-------------------------------
#RAHIM KATA-KATA, kump. puisi Susy Ayu. Sebuah bentuk rasa syukur atas jejak usia 38 thn, tgl 14 Juni 2010.58 hal + viii. ISBN: 978-602-96333-7-5. Editor: Kurniawan Junaedhie. Endorser: Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noer & Kurnia Effendi.#
Membaca puisi-puisi Susy Ayu, saya seperti berhadapan dengan “aku lirik” yang dibetot dua kekuatan: bukan sebagai paradoks, bukan juga sebagai kontradiksi. Di satu sisi, ada hasrat untuk mengungkapkan banyak hal: tentang sejarah masa lalu, mitologi atau jiwa yang menyatu dan terbelah. Di sisi yang lain, ada sebagian yang ingin tetap disembunyikan; rahasia yang sengaja dinikmati. Tema-tema ambivalensi seperti hendak menyergap kita. Maka, di sana-sini–dalam antologi ini–ada main-main yang serius; ada kenakalan dalam kesantunan; ada perlawanan yang tersimpan dalam kesetiaan. Nah!
(Maman S Mahayana, Pengajar Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)
Dalam berpuisi Susy Ayu nampaknya bukan sekedar merangkai kata, namun ada kesadaran untuk selalu memberinya muatan makna. Maka lewat puisi-puisi yang ditulisnya kita akan menemukan banyak pernyataan dan gugatan yang mempersoalkan eksistensi perempuan dalam kaitannya dengan gender. Bahkan pada sejumlah puisi terbaiknya, pernyataan dan gugatan tersebut terasa begitu keras dan lantang. Hanya saja Susy Ayu berhasil membungkusnya dengan bahasa simbolis yang indah dan merdu. Bahasa yang khas puisi.
(Acep Zamzam Noor, Penyair)
Susy Ayu telah sampai pada persimpangan dalam mengolah materi, antara yang terdorong oleh imajinasi impulsif dan yang dituang dari pengendapan pembacaan. Keindahan berikutnya adalah keberaniannya memberi warna sensual, sehingga sejumlah puisinya seperti memiliki kerling yang menggoda.
(Kurnia Effendi, penulis memoar Hee Ah Lee, “The Four Fingered Pianist”)
Dalam makalah setebal 10 halaman, yang berjudul “Puisi Sosiokultural Susy Ayu”, Eka menunjuk puisi-puisi Susy yang mengajak pembaca berkenalan dengan Putri Pembayun, Dewi Drupadi, Maria Magdalena, Hercules, Old Shuterhand, dan seterusnya. “Susy Ayu sangat ahli membuka dialog melalui celah-celah referensi seperti itu,” ujarnya. Sementara dalam puisi Rengganis yang tak dimuat dalam buku ini Eka tak kurang-kurang memuji, alangkah kaya dan luasnya pemandangan yang dapat diungkap hanya melalui sebaris atau dua baris puisi Susy Ayu. “Dengan puisi ia telah membuktikan bahwa kata-kata dapat menciptakan jagad tersendiri untuk berbagi,” tambahnya. Susy dengan bakat dan intelektualitasnya telah membagikan berbagai aspirasi melalui puisinya.
Susy Ayu adalah salah seorang penyair yang sebelumnya banyak menulis melalui Fecabook. Sebelumnya, karya-karyanya dimuat dalam antologi puisi 10 penyair Facebook “Merah Yang Merah”, dan “Perempuan dalam Sajak”. Buku “Rahim Kata-Kata” adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama. Buku setebal 52 halaan itu, dieditori oleh Kurniawan Junaedhie, dan diberi endorsement oleh Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noor dan Kurnia Effendi.
Acara peluncuran dan diskusi buku kumpulan puisi itu sendiri, dihadiri para penyair dan seniman dari berbagai angkatan seperti Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Remmy Novaris DM, Kurnia Effendi, Ana Mustamin dll. Acara itu digelar di PDS HB Jassin, TIM, Sabru 19 Juni 2010. Tampil membacakan puisi antara lain penyair Kurniawan Junaedhie, Shinta Miranda, Nona Muchtar dan lain-lain.
Saat ini penyair perempuan sangat sedikit, sehingga pesaing Susy untuk menjadi penyair perempuan andal terbuka lebar, demikian Eka.***(Ist)
Jodhi Yudono | Senin, 21 Juni 2010
http://oase.kompas.com/read/2010/06/21/02041265/Kata.kata.yang.Menciptakan.Dunia.Sendiri
-------------------------------
#RAHIM KATA-KATA, kump. puisi Susy Ayu. Sebuah bentuk rasa syukur atas jejak usia 38 thn, tgl 14 Juni 2010.58 hal + viii. ISBN: 978-602-96333-7-5. Editor: Kurniawan Junaedhie. Endorser: Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noer & Kurnia Effendi.#
Membaca puisi-puisi Susy Ayu, saya seperti berhadapan dengan “aku lirik” yang dibetot dua kekuatan: bukan sebagai paradoks, bukan juga sebagai kontradiksi. Di satu sisi, ada hasrat untuk mengungkapkan banyak hal: tentang sejarah masa lalu, mitologi atau jiwa yang menyatu dan terbelah. Di sisi yang lain, ada sebagian yang ingin tetap disembunyikan; rahasia yang sengaja dinikmati. Tema-tema ambivalensi seperti hendak menyergap kita. Maka, di sana-sini–dalam antologi ini–ada main-main yang serius; ada kenakalan dalam kesantunan; ada perlawanan yang tersimpan dalam kesetiaan. Nah!
(Maman S Mahayana, Pengajar Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)
Dalam berpuisi Susy Ayu nampaknya bukan sekedar merangkai kata, namun ada kesadaran untuk selalu memberinya muatan makna. Maka lewat puisi-puisi yang ditulisnya kita akan menemukan banyak pernyataan dan gugatan yang mempersoalkan eksistensi perempuan dalam kaitannya dengan gender. Bahkan pada sejumlah puisi terbaiknya, pernyataan dan gugatan tersebut terasa begitu keras dan lantang. Hanya saja Susy Ayu berhasil membungkusnya dengan bahasa simbolis yang indah dan merdu. Bahasa yang khas puisi.
(Acep Zamzam Noor, Penyair)
Susy Ayu telah sampai pada persimpangan dalam mengolah materi, antara yang terdorong oleh imajinasi impulsif dan yang dituang dari pengendapan pembacaan. Keindahan berikutnya adalah keberaniannya memberi warna sensual, sehingga sejumlah puisinya seperti memiliki kerling yang menggoda.
(Kurnia Effendi, penulis memoar Hee Ah Lee, “The Four Fingered Pianist”)
Senin, 07 Mei 2012
Opera Semalam 2
kita duduk berdua di depan televisi “Kita sudah kebingungan. Kita panggil para ahli dari luar negeri dan bersikap seakan formulasinya adalah obat paling mujarab untuk segala penyakit. Kita berkerumun seperti nonton tukang obat di pasar. Anda ngerti tho maksud saya?”
kita duduk berdua di depan televisi, mengganti saluran lain “negeri ini penuh krisis, tidak semata-mata krisis politik, melainkan krisis multidimensi. Rakyat sudah tidak percaya lagi pada kepemimpinan yang ada“
kita duduk berdua di depan televisi, menekan saluran lain “Indonesia mmng sedang membususk. Mental kita belum mampu berdemokrasi. Amerika melewati tahap anarkis sebelum akhirnya membentuk masyarakat sipil mereka. Perbudakan, perang saudara, wildwest.”
kita berdua masih duduk di depan televisi, mematikannya bapakku terbunuh di atas sajadah ayahmu meninggal kena ledakan bom gereja haruskah ada seseorang yang mati lebih dulu untuk memberikan alasan atas cita-cita kemanusiaan?
Tuhan, Kau ada di saluran berapa?
Oktober 2011
(dimuat dalam buku antologi puisi "Hati Perempuan" 2012)
kita duduk berdua di depan televisi, mengganti saluran lain “negeri ini penuh krisis, tidak semata-mata krisis politik, melainkan krisis multidimensi. Rakyat sudah tidak percaya lagi pada kepemimpinan yang ada“
kita duduk berdua di depan televisi, menekan saluran lain “Indonesia mmng sedang membususk. Mental kita belum mampu berdemokrasi. Amerika melewati tahap anarkis sebelum akhirnya membentuk masyarakat sipil mereka. Perbudakan, perang saudara, wildwest.”
kita berdua masih duduk di depan televisi, mematikannya bapakku terbunuh di atas sajadah ayahmu meninggal kena ledakan bom gereja haruskah ada seseorang yang mati lebih dulu untuk memberikan alasan atas cita-cita kemanusiaan?
Tuhan, Kau ada di saluran berapa?
Oktober 2011
(dimuat dalam buku antologi puisi "Hati Perempuan" 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)





