Aku melihatmu di tengah kerumunan, dengan pucat yang memasi di seluruh mu. Tanah pijakanku serasa bergetar disaat kaki mungil bersepatu kets mu menjejak dari atas kereta malam terakhir. Udara malam kini menamparku berkali-kali dari keterpesonaan.
" Menepilah…!"
Sebelah tanganmu menutup wajah, ketika darah terpercik dari kerumunan. Sebelah lagi kau biarkan kuraih untuk menepi.
"Tidak seharusnya dia diperlakukan begitu…dia hanya pencopet kecil…" suaramu merintih.
Sungguh aku yang terkapar, kau curi semua rasa di dalam hatiku dengan bibir gemetarmu, wajah pucatmu terus menerus menggantung di pelupuk mata. Kau bangkitkan aku berkali-kali.
Kau bilang kau pernah membenci kota ini, bahkan mungkin masih tersisa itu di dalam hatimu. Tapi sesuatu hal membawamu kemari, sendiri, dan pertemuan tak terduga ini mencipta banyak hal diluar kuasaku.
Kau cuma bergumam, dengan kalimat yang sulit kumengerti maknanya, bahwa alur hidupmu berubah di kota ini. Kota yang berpakaian sangat santun ini sanggup mencabik habis seluruh lorong nafasmu. Kau membenci tempatku menatap bintang sepanjang malam. Tapi disebaliknya, kau duduk bersebelahan denganku, cuma ini caramu mencintai rasa sakitmu, kau bilang begitu.
Tapi aku tidak cukup punya waktu untuk berusaha memahamimu, pun untuk memahami ledakan-ledakan dari suram di dalam sini. Aku berharap sedikit saja cahaya dari mendung di atas langit rumahku, tapi kau memberi banyak, lebih dari bulan yang sengaja purnama. Di usia hampir tiga puluhku ini, percayakah kau jika ku katakan bahwa cinta pertama kali datang untukku?
Aku selalu berharap kau percaya geletar pertama yang bangkit sebagai pengetahuan, ini adalah sesuatu yang kita sebuat cinta. Dan kau yang mebawanya ke rumahku, aku melihat geletar dimatamu yang tidak sependapat denganku.
"Apa artinya,." katamu. Tidak memberikan makna apa-apa dalam hidup, apakah dia datang yang pertama atau kesekian. Bagimu itu hanya dongeng-dongeng kepedihan yang terus menerus diturun temurunkan. Kenangan yang memaksakan diri untuk mencipta rasa bahagia bagi orang-orang yang merasa kehilangan.
Ah, tidak, aku tidak ingin membuat deretan kenangan di bumi ini tentang sebuah kisah cinta pertama. Memalukan, kita berdebat di rumput rumahku hanya karena sebuah cinta yang datang pertama kali. Tapi jika kau ijinkan aku bersumpah, aku ingin membelah langit dengan semburat dari matamu, sinar itu tentu akan sanggup, seperti ia telah membelah dadaku dan meninggalkan bongkahan besar untuk selalu kusimpan.
***
Kau mulai menyibakkan selubung kelabumu dengan sebuah kisah seperti hujan yang sangat sedikit, tentang kebencianmu yang membuatmu selalu merasa terdampar di kota ini sekaligus membuatmu ingin kembali dan kembali, meski tanpa kekuatan.
Kala itu, berbaring dalam telanjang di tengah jerami kering, Jogja, memanggilmu "perawan". Tapi engkau bukan Maria, dan juga bukan bayimu (yang tak sempat lahir) adalah Jesus.
"Tapi telah kuberikan cintaku seutuhnya!" sergahmu.
Tetap saja, sejarah mengancingkan celananya dan berpaling. Maka dengan pedih di selangkanganmu kau teruskan hidupmu. Kota itu pun bangkit dari tidur ayamnya dan mencegahmu berpamitan.
Kau lalu memang menyelinap darinya sambil terus menyusun kiat yang lebih nyaman untuk berselingkuh dengan dirimu sendiri, sebab semua kota cuma hamparan lendir bagimu. Kau terus berjalan karenanya, sampai kemudian kau temui laki-laki lain itu, yang telapak tangannya berlubang. Dan selain alasan penyaliban atas dirinya sendiri, ditempuhnya sekarat untuk ia sampaikan pesan ini : Bahwa Engkau tak berdosa Bahwa kota itu, yang adalah kota ini, tetap memanggilmu "perawan!"Kau menyusut air matamu perlahan.
Tapi ternyata musim berdusta tak bertahan lama, kau terkoyak lagi, oleh sebuah penuntutan yang tak bisa mengadili dengan adil. Kau tetap saja seorang perempuan yang tidak sebening embun ketika matahari mulai terbangun walau hanya kota ini yang tetap memanggilmu perawan.
Kau ciptakan sungai dan senja, di sebalik kenanganmu yang sarat oleh siksa, juga di telapak tanganmu. Warna jingga keunguan kau semburatkan di ujung jari. Jika makna alirku serupa batu hitam di dasar berlumut, hanya senjamu yang dapat menghapus warna laut. Abadikan ia dalam remasan tanganmu. Dan kapal-kapal akan terselip di rambutku. Badai akan tercipta dari helai-helai gairah yang berguguran. Mengalir, mengalirlah kata-katamu di sungai mu. Senja merah yang sangat kusuka. Tanganmu kekal meremas punggunggku.
Lalu kau menangis…..
Dengarlah perempuan yang kutemui dalam separuh perjalananku, aku adalah batu hitam yang diam itu. Sebermula adalah wujud untuk kemudian menjadi ada. Dari ada lalu terbit kesedihan, dan pada kesedihan hinggap kehidupan. Bersamanya, hinggap pula engkau. Maka cuaca telah mempertemukan kita. Dan senja yang kau ciptakan memperlembut kemarau, menaburkan embun dan menumbuhkanmu. Akarmu lembut menggemburkanku. Lalu dalam musim, kau mengikisku, butir demi butir, tanpa aduh, tanpa keluh.
Kau telah menghidupkan aku dalam urai. Untuk kemudian larut sebagai gembur, tempat di atasnya kau beranak pinak, menghampar hijau tengadah menentang matahari. Bersediakah kau menikah denganku nanti?
Kau cuma menangis….(lagi)
Sementara putingmu bergeser di punggungku, aku bercerita bahwa sebatang selokan ini Rajaku yang bikin. Ketika Opak dan Progo bertemu, maka Mataram akan menjadi rahim bagi kelanggengan. Ketika kemudian sungai darahmu dan sungai darahku menyatu tak lama kemudian, tidakkah gagasan tentang keabadian Mataram itu begitu syahwati? Tak kau jawab tanyaku.
Matamu maut yang padam menatapku, dan cengkeraman kukumu di punggunggku…Ah..keabadian adalah sedetik sebelum kau tertelungkup, sungai hidupmu mengalir, sungai hidupku mengalir, dalam gelimang cahaya bulan di permukaan selokan Mataram.
Kau telah menemukanku, yang tersesat dalam kabut. Ketika kupanggil namaku, tapi cuma gaungnya sendiri. Lalu hujan turun, lagi, bertahun kemudian. Masih saja tak ada siapapun. Cuma sepotong sajak yang menegaskan aduhku. Hujan turun di rumput. Ada juga hujan untukku, dan Nuh. Tapi tak akan aku bersamanya, sebab bahkan belibis pun berpasangan di danau itu. Siapa gerangan aku, laki-laki, di padang ini, di Timur Sorga, tanpa Hawa?
Ingin kusebut engkau ibuku, yang telah memberiku koin, untuk membuatku menempuh level berikutnya. Kau telah membuatku terus menerus merasa berharga, sebab koin-koin membuat pertempuran terus ada, dan akulah pemenangnya. Meski bila tidak, kau selalu memberiku nafas, seperti koin yang terus selalu ada untuk pertarungan berikutnya.
Ingin ku sebut kau adalah ibuku, yang dari putingmu terus menggelinding koin-koin berikutnya, gairah hidupku, rasa adaku. Kau yang telah menemukanku! Tidak sekedar sebuah cinta baru tumbuh di hati yang berkarat. Kau menarikku dari tempatku tinggal, membuka mata hati untuk berusaha melihat bahwa jalan ini tidak seburuk yang kukira. Patahan-patahan semangat kau susun, seperti menjahit perca demi perca. Kau mencipta aku, wahai perempuan. Lebih dari sekedar jasadmu yang terbangun dari tulang rusukku. Ah, karena itukah yang membuatku lemah…sementara kau tidak perempuan, tak ada yang mengurangi rusukmu.
Kupikir kita telah menggenggam harapan, ketika kita menautkan apa yang disebut cinta. Terlambatkah itu menyerbuku? Lalu kaupun berkemas, sebelum mengakhirinya dengan sebuah selamat tinggal yang ganjil. Tapi kereta selalu tak mau menunggu, meskipun ia selalu bisa saja berangkat telat, seperti semua kekasih yang mengkhianatimu.Hingga malam itu, dalam lengking yang terdengar seperti peluit terakhir, malam menelanmu bulat-bulat, dengan suara gemuruh yang masih saja bergema sebagai separo mimpi separo jaga hingga dua puluh tujuh purnama kemudian.
Aku mengenangmu sebagai suara gemuruh yang hilang di ujung stasiun, mengingatnya lagi dan lagi, bertalu-talu dalam nadiku. Hingga kemudian, ia menyatu sebagai degup jantungku. Demikianlah engkau tinggal dalam diriku, jauh sesudah semua pengkhianatan yang paling pedih dilupakan orang, dan bahkan tidak bisa kueja lagi sejarahmu sebagai kata-kata. Engkau tinggal di sekelilingku sebagai cuaca yang memerangkapku dari musim ke musim.
Tapi pun aku tahu, kau mengambang juga di langit kotamu. Memerangkap sekian laki-laki lain dalam cuaca. Aku tahu. Aku tahu. Pengkhianatan telah menjadikanmu begitu lihai mengemas kegetiran. Dan kereta malam terakhir itu telah benar-benar merampasmu dari heningku yang sudah mulai bingar. Kau selimuti engganmu dengan senyum , dari sebalik jendelamu kutanggap keberatan itu. Tangan yang dipaksa untuk melambai tanpa gerak, melekat. Aku berlari, coba menyusulmu, mengiringi lajunya. Kau terampas, aku terkapar, aku harap ini hanya sejenak. Sekedipan mata. Kelak aku ingin kita bertemu lagi.
Kau tahu, di seberang pengkhianatan, tidak ada lagi yang cukup pedih untuk menjadi sebuah roman yang mengharukan, pun juga tidak celotehan tolol separo-mimpi-separo jaga ini. Kelak, aku akan cuma jadi laki-laki kesekian dalam hidupmu. Laki-laki kesekian yang tidak penting lagi untuk mencintaimu atau mengkhianatimu. Tapi aku mengingatmu, sebagai gemuruh yang lenyap di ujung stasiun.
Satu-satunya ingatan yang diijinkan kumiliki, sebelum membeku sebagai sebongkah batu, yang cuma bisa merasakan kesunyian, tapi tak bisa menamainya. Ya, aku tak bisa menamaimu. Aku merasakanmu, mengingatmu, tapi tak bisa kunamai kenanganku.
Kelak, perempuan, bila tiba saatnya, aku akan menemuimu, setelah kusesap lagi Buah Pengetahuan sekali lagi, terkutuk untuk kedua kalinya, terlempar dari diam ini, mencarimu di muka bumi, terperangkap di bawah kolong langit. Sebab, perempuan, sebab it is you that invented me.
******
Ah….Dimanakah kau, Mbak?
Betapa tololnya aku, setelah habis hembusan rokokku berbatang-batang baru kusadari kau begitu jauh dariku. Berapa jarak kita, Mbak? Ratusan kilometer ini menjamahku dari tenang di sisimu. Kau ada di jarak itu, dalam sebuah rumah, dimana seorang laki-laki menjaga pintunya, dan di kakinya kau bersimpuh, membasuhnya. Mungkin bukan, kau adalah putri itu, yang selendang putihnya melambai oleh angin di pucuk menara, dengan naga melingkar di jenjangnya, dengan mantra mengambang di gerbangnya. Di sana, aku tahu, seorang nenek sihir menjelma laba-laba tua yang sarangnya memenjaramu.
Tracy Chapman di layar, menggantung di depan stage. Di atasku, langit menyingkap, bintang-bintang, ah. Sebatang lilin bertahan dari gerimis di sebuah cekungan, mencegahmu untuk tidak terperosok di sana, lalu bangku-bangku , dan kursi, music itu, gadis –gadis bak boneka keramik itu, sejumlah pasangan yang bergeremang dalam gelap. Kupikir kopi ini terlalu pahit, mungkin aku membutuhkan tambahan gula. Ketika waitress itu mendekat, ia mendekatkan telinganya ke mulutku, "Apakah saya bisa minta tambahan gula lagi?"
Kupikir aku adalah seorang pengembara, menyalakan unggunan api di seberang jendelamu. Kulihat kau berdandan, nun di atas sana, dan selendang itu masih saja melambai oleh angin. Ketika kusesap kopiku, dari balik lidah api itu, kesedihan menyerbu dengan cara yang sangat menyakitkan; untuk siapakah gerangan, Her majesti, engkau berdandan? Sungguh angin begitu jahat di luar sini. Dan sunyi ini merubung tak tertahankan. Pun langit tetap saja melengkung tanpa jawaban. Kenapa kita tidak bercakap saja, berdiang dengan kata-kata ; mungkin tidak, mungkin cuma bertatapan, atau bercinta begitu saja, seperti sepasang serangga.
Lalu, sejumlah permaafan, atas jarak itu, laki-laki itu, nenek sihir itu, naga yang melingkar itu, mantra itu, menara itu, adaku dan adaku, yang tak bersisian. Ketika aku mendongak, kau menatapku. Matahari sudah tenggelam lama sekali.
Seseorang memanggil namaku, "Maukah kau memberi pengantar untuk pertunjukan kita malam ini?"
Menempuh meja-meja itu, gerimis membungkusku, dan di bawah lampu aku tersenyum pada penonton yang tak kukenal dan berkerumun dalam remang. Ia mati muda, kataku, seperti Chairil Anwar, Soe Hok Gie, atau Nike Ardilla. Kerumunan itu tidak menjawab, aku tahu, aku bicara untuk diriku sendiri, sebab aku adalah laki-laki di bawah sorot lampu.
Aku berharap kau ada di sana, meskipun tak kulihat kau dalam gelap. Aku berharap kau menungguku, setelah aku turun dari panggung, menempuh meja-meja, pasangan yang bergenggaman, dentum musik dan sorot lampu. Aku berharap kau menungguku, untuk saling berbisik lagi, dan menjadikanku laki-laki yang tidak bicara pada dirinya sendiri.
Dalam benakku, kutemukan kau menatapku. Matahari sudah tenggelam lama sekali. Hallo, can I call You, Mbak? Tengah malam ini, kutulis sebuah surat panjang untukmu.
Aku belum bisa terlelap. Kamu sedang apa?
Sender: mbak
+ 6281284XXXXX
Boleh aku menelponmu, mbak? Sebentar saja.
Send.Klik
Delivered
Tidak perlu! Dia memang tidak pulang lagi malam ini.
Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.
Irit-irit pulsamu. Selamat tidur ya?
Sender: mbak
+ 6281284XXXXX
***
Dalam tidurmu kau bergumam. Dan ketika kusadari bahwa hujan masih gerimis di luar, aku meraihmu. Di cekungan punggungmu, tanganku tergelincir. Kusentuh lehermu, lunak. Dari balik kulitnya nadimu berdenyut. Di dalamnya, darah mengalir. Sunyi berkejaran di sana. Kau bergumam lagi.
"Tidak sayang, malam masih panjang." kataku. "Bersembunyilah."
Pagi nanti sejumlah headlines akan menyerbu. Aku ingin kita terperangkap di sini, dalam sekarat abadi ini, sebab hidup cuma setarikan nafas, dan kita cuma akan bisa berbahagia.
"Tidurlah," kataku. Kulitmu licin, dan tiap kali aku menyusurinya, hidup menguar dari tubuhmu, bergelombang; dimintanya engkau menanggunggkannya, dari sepi ke sepi, aku tahu.
Tapi tidak malam ini. Di bawah selimut, kita telanjang, seperti manusia pertama yang tidak mengenal pengetahuan, dan Tuhan seperaihan tangan dari adaku dan adamu. Semesta baru saja diciptakan, kau cium baunya, mengambang di luar sana. Kita tidak ingin perduli.
Di atas pahaku, kakimu menindihku. Kurasakan selangkanganmu di sana. Lembab, dan dalam setarikan nafas, aku akan tahu di situ menguar bau ludahku. Dalam gelap kita saling menjilat, karena kau tahu kita tidak abadi.
Ingin, ingin sekali aku menarikmu dari sana, dari tubuhmu yang tidur, untuk kemudian kau kenakan tubuhku, merasakannya. Aku ingin kau menjadi diriku, dalam dekat ini, memelukmu yang lelap. Dan akan kuajukan sebuah pertanyaan, "Apakah ia bahagia? Lihatlah, nafasnya teratur, kau bisa merasakan detak jantungnya, mendekatlah, cium ubun-ubunnya, kau baui rambutnya? Ia bahkan tidak mau melepaskan tubuhnya dari pelukanmu."
Akan ada sebuah perasaan bahagia yang ganjil menelusupimu. Mengembang seperti alam semesta, dari Penciptaan ke Kiamat, dan miliaran tahun adalah sekejapan mata. Akan ada jawaban untuk semua rahasia, yang akan menindihmu, sampai kau kelu, sebelum akhirnya meledak, sebab kau tidak akan mampu menyampaikannya padaku. Seperti Musa yang tak juga siuman di Bukit Sinai. Rahasia itu, bukankah tak tertahankan jawabannya, pun bila kau mampu memahaminya?
Di bawah rambutnya, kulitnya berwarna putih. Kau akan tersesat di sana. Setelah tersesat kau akan memanggil-manggil namanya, memintanya untuk membawamu pulang. Dan dia akan turun dari langit sebagai seekor bangau. Dan kau akan terbang bersamanya dalam gendongan di paruhnya, sebagai bayi. Dan dibawanya kau mengatasi keberadaanmu. Dan dibenamkannya kau dalam lembab hutannya, disusuinya kau dengan putingnya yang kerikil; kau akan menggigitnya keras-keras, sebelum ia melenguh. Dan dalam teriakan terakhir, dalam satu sentakan di selangkangannya, ia akan berdenyut cepat, melahirkanmu. Lalu kau akan menangis begitu saja seakan tanpa sebab, karen akau tidak ingin dilahirkan. Karena kau ingin terus berada di dalamnya. Karena kau adalah
anak cucu Adam, yang menangis jua di Canaan, setelah pengetahuan membuangnya dari surga. Dan dalam kapar, kau rasakan itu, keberadaanmu yang penuh sekaligus terasing, mengambang mengatasi dunia yang perawan di matamu, terhampar di luar tubuhmu. Aku tahu.
Dalam tidurmu, tahukah, aku berbisik padamu? "Setelah sejumlah teriakan tertahan dan ledakan, Mbak sayang, kita akan mengalami kematian-kematian kecil. Dengan demikian kita tahu, hidup ini berharga untuk dijalani, pun bila ia adalah sebuah kutukan."
Hujan masih gerismis di seberang jendela. Di sini, kita bersembunyi, dalam sekarat abadi.
***
Apa yang akan aku lakukan padamu, ketika pertama kali kita akan bertemu lagi?
Kulihat kau duduk di sana, di bangku fiber itu, keras, dingin , berwarna plastik. Dari jauh, aku akan sudah mencium baumu. Di tubuhku, melekat tujuh ratus kilometer pencarianku, bau besi layu, debu, keringat, debar jantungku. Di dadaku, kerinduanku. Di seberang pagar, Monas, tegak di atas Indonesia Raya yang terus menerus murung.
Kau seperti Jakarta. Bersolek terus menerus dan tak kunjung bahagia.
Aku akan menyapamu, mungkin dengan gugup, barangkali juga degup; dalam genggamanmu, kau tahu dalam diriku ada yang terus bersiap untuk meletup.
Lalu, Jakarta akan menenggelamkan kita. Di dalam taxi tangan kita bergenggaman, hatimu yang rusuh, sebab kau tahu barangkali tiap kelokan tengah mengawasimu. Di balik jendela, terpisah dari udara AC, Jakarta menggeram dan terengah; kemana, dimana, kemana Jakarta akan menyembunyikan kita?
Ingin ku bawa kau pergi dari sana, dari reruntuhan itu; di bawah lampunya yang gemerlap kau tidak berbahagia. Pergi, pergilah dari sana. Bersamaku kita putari bumi, seperti Columbus yang bertaruh dengan sebutir telur. Kita manusia pertama di muka bumi. Kau adalah istriku, Hawa, dan langit masih terus saja melengkung. Kau tahu, seharusnya kita tidak berada di sini. Kita pergi dari sini, ke tempat burung-burung bercakap, dan tak ada yang terjadi di luar lapar dan birahi.
Di bawah Pancoran, hatiku ngungun. Laki-laki gagah dan tegap itu, pada siapakah api yang nyala di tangannya itu hendak menerangi? Meluncur di jalan tol, menggenggam tanganmu, membaui ubun-ubunmu, dadamu yang lunak, tubuhmu yang lembut, kusapa Jakarta. Jakarta yang kubenci, Jakarta yang menyembunyikanmu. Jakarta yang menyembunyikan kita. Di bawah ketiaknya orang-orang berkerumun untuk hidup yang terlalu berlendir untuk dibela; Jakarta, Kramat Sentiong, Stasiun Tanah Abang, Tanjung Priok, Bekasi, di sana kita akan bercinta.
Aku tidak ingin kau hamil. Aku ingin menghamilimu di Tambi, di bawah perdu teh, tidak di sana. Aku ingin kau hamil, ketika kita bercinta di rerumputan, di semak-semak seperti binatang tak jauh dari belibis yang berenangan, di Ranu Kumbolo. Di rumahku kelak, tempat dua ekor koki berenangan di akurium dan hujan turun di luar. Tidak, tidak di Jakarta. Marilah kita menipu kota yang bangsat ini, kota yang terus menerus berdandan namun tak kunjung bahagia.
Perempuan-perempuan semakin banyak kutemui kau, semakin aku merasa sendiri.
Di manakah keabadian cintaku? Kau pahamikah kecemasanku, perempuan, kalau kubenamkan wajahku di dadamu? Sebab tak mampu kutatap putingmu di mana dari sana menetes susu yang memberiku kehidupan. Kau pahamikah kecemasanku, perempuan, bahwa tanpamu, siapakah aku di dataran keyakinan ini? Kau pahamikah ketakutanku, perempuan, bahwa di hadapanmu, aku berubah sebagai bayi, dan sebagai bayi aku tak hendak bersedia terlahir, seandainya saja bisa ku tawar? Bahwa disini, diriku, seluruh kekuatanku, kesombonganku, hidupku luruh, sebab kau perempuan, kau simpan jalan pulangku, di selangkanganmu?
Dalam birahi, kehidupan dan kematian bersatu. Dalam birahi, kau dan aku cabar seperti kabut. Dalam birahi, aku lenyap dalam dirimu. Maka perempuan, susui aku lagi .Biar kusesap habis dirimu, sebab dinamakanNya kau Hawa, lantaran kau adalah ibu dari segala kehidupan.
Denganmu, Mbak sayang, aku ngungun oleh cemas asali ini. Denganmu, Mbak, kubiarkan ia menipuku. Sebab dalam benamku di tubuhmu, aku akan berteriak, sebagaimana ceracau Adam oleh langit yang tanpa jawaban. Dan usai aku tumpah, Mbak, ingatkan aku untuk pulang. Sebab hidup belum lagi usai untuk dijalani. Sebab kau adalah istri seseorang. Sebab kita tidak berdosa, dan suatu ketika kelak kita tidak akan lagi harus bersembunyi. Kita akan bercinta di manapun, sebab dengan kesungguhan hati, kita akui kecemasan kita akan yang tak abadi itu. Dan hidup, ah, adalah kesempatan buatku untuk menciummu berpanjang-panjang.
Maka, Mbak, temui aku di stasiun Gambir, lalu kita susun kembali kemuakkan kita akan dusta kotamu, dan hidup kita dalam birahi, hingga terbakar , hangus dalam bahagia.
"Pulanglah ….dan jangan pernah untuk melihat kebelakang….dimana pernah ada kita". Tapi kau malah memintaku demikian. Mataku berkaca. Masih kugenggam erat tanganmu di atas meja, di sebuah rumah makan, di depan toko buku yang selalu menautkan hati kita melalui kesukaanmu itu. Cuma itu tempat kita.
"Tetaplah di Jogja, banyak hal yang bisa kau lakukan di sana. Itulah tempatmu,…"
"Tidak, Mbak, tempatku di sampingmu, kelak aku akan sanggup membawamu dari laki-laki itu."
"Tidak ada masa depanmu denganku, tolong, lupakan aku."
"Tapi kau tidak bahagia, kau disakitinya terus menerus,sepanjang waktu, dan aku tidak sanggup melihat itu."
"Bagaimanpun juga dia masih suamiku, apa yang kita lakukan adalah suatu kesalahan."
"Terlambat kau bilang itu sekarang, Mbak, Cuma kau tempatku pulang."
Persetan dengan laki-laki itu, dia pun mengkhianatimu, kenapa dia tidak menceraikanmu saja? Aku membencinya, juga kau atas nama cintaku. Aku mengutuk dalam hati.
Semua itu kemudian menjadi pembicaraan kita yang terakhir. Tak ada yang lebih kuat tersisa di ingatanku selain lebam di matamu, dan kau biarkan tangan laki-laki itu terus memperlakukanmu demikian. Maka aku pulang, kembali menjauh tujuh ratus kilometer darimu seperti sebelum semua dimulai.
Saat ketika kau tidak mengijinkanku menangis sendirian,
aku akan mengingatnya. Apapun yang akan kita tempuh…
You are the most precious thing ever happened in my life
Sender: mbak
+ 62812xxxxx
Ah Mbak, rupanya cintaku belum cukup besar untukmu.
Send.Klik.
Pending.
******
Bekasi, (sekian waktu yang lampau)
dimuat dalam buku kumcerku "Perempuan Di Balik Kabut"
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Mei 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Langit Sephia Berbingkai Jendela
Cuma ada debaran keras di dada, sekaligus bercerita tentang ketidakberdayaan. Kelelahan bertahun untuk terus menerus berusaha mempertahankan tahta di hati seseorang. Semestinya ia tidak sendirian di sini, menyapu permukaan ranjang berlapis sutra dengan betisnya yang putih dan jenjang. Dingin menyergap, membungkusnya, sedangkan ia setengah telanjang. Semestinya ia tidak kesepian di sini, karena kamar ini selalu hingar di penghujung minggu, bercinta sampai pagi, mencoba metode baru bersetubuh, meledak berkali-kali sampai ke puncak keyakinannya tersimpan di hati laki-laki pasangannya. Lalu sederet kecil berlian akan disematkan pada lehernya. Namun demi Tuhan, bukan itu lagi yang ia damba, laki-laki yang sepantasnya menjadi bapaknya itu menyemaikan cinta dan pengharapan lebih dari sekedar perempuan simpanan. Ia ingin dicinta, sebagaimana perempuan yang utuh.
Kini ia menatap cermin, keningnya basah oleh peluh, disapunya perlahan menyusuri leher lalu berhenti di dadanya yang masih saja bergantung indah, entah sudah berapa laki-laki yang pernah meningalkan jejak samar di sana selain seorang anaknya. Ada guratan sangat halus nyaris tak terlihat di ujung kedua matanya, namun masih saja tampak indah untuk gambaran seorang perempuan berusia di atas tiga puluh tahun. Cerlang matanya meredup, ada warna gelap di kantung matanya, wajahnya kusut, ah…ia terlalu banyak minum semalam. Namun hanya dari situ ia mendapatkan gelora, gairah untuk terus bertahan dan menikmati keutuhan cintanya pada laki-laki itu yang sering datang sebagai bayang-bayang dari pada kenyataan.
Tubuh putihnya yang setengah telanjang menggeser perlahan, meraih setumpuk surat yang belum lagi dibaca. Ia sudah tahu apa isinya tanpa perlu membukanya. Kabar tentang ayah ibunya yang sudah renta di kampung, bibinya, kakaknya, seorang anaknya, kemudian sederetan angka-angka yang mesti ia kirimkan untuk menghidupi semua orang tercinta itu. Perasaan nelangsa , kesepian dan kemarahan yang terpendam begitu rupa membuat ia tidak bersemangat untuk memikirkan siapapun. Mengapa ia biarkan dirinya terlanda damba cinta dan hangat seperti ini? Seharusnya tak perlu, hanya bikin siksa.
Sebelah kakinya bersila di atas kursi, g-stringnya merebak, sekali saja seakan tanpa sengaja ia usap belahan di antara dua pangkal pahanya, basah. Andai saja ia masih berhak menerima setiap pria yang menginginkannya, tentu tak perlu merasa kesepian. Banyak hal yang bisa membuatnya lupa akan pedihnya, paling tidak ia tidak akan pernah merasakan sungguh-sungguh sendirian. Walau mungkin semu.
Genap delapan minggu tanpa laki-laki itu, tanpa pertarungan bersimbah keringat, tanpa pergumulan yang disudahi dengan jeritan panjangnya. Bangsat betul! Laki-laki itu menyimpannya untuk dinikmati sendiri, juga disimpan untuk diasingkan, tak terjamah, tak tersentuh. Delapan kali minggu laki-laki itu mengingkari janjinya, tiada kabar, tiada pesan yang tertinggal. Semua sms yang ia kirimkan ber- report: pending. Hanya suara perempuan yang diatur secara otomatis menyambut suaranya. Halo…halo…. Aku lelah! Aku lelah hidup seperti ini. Nikahi aku saja atau lepaskan aku kembali ke tengah malam.
Untuk kesekian kali ia pandangi wajahnya di cermin, meraih sebatang rokok, membakarnya. Seperti iseng, ia mencore-coret wajahnya dengan kosmetik, berusaha terus menerus mengganti identitasnya. Ia melakukannya sambil terus merokok, tiap satu coretan ia berhenti, mengamati lekat-lekat wajah yang terpantul dari cermin. Siapa ini? Akukah? Seperti apa aku ini? Namun tiap kali ia berhenti dan memandang dirinya sendiri yang tertangkap hanya kepulan tipis asap rokok seperti tirai di hadapan wajahnya. Menangakap bayangan wajahnya sendiripun tak lagi bisa, dan ia tak perduli. Enyahlah kau perempuan malang di dalam cermin! Makin ia tebalkan asap itu, terus menerus hingga kamarnya putih kelabu, sampai ia terhenti sebab kepulan asap itu seperti jemari yang menyekik lehernya.
Ia menyeret langkahnya tanpa semangat, membungkuk meraih tas di kolong ranjang dan mengeluarkan sebuah handycam dari dalam tasnya. Kemudian ia memutarnya, di displaynya terlihat wajahnya sendiri, pada waktu yang lain.
DI LCD
(Ia duduk di atas ranjang, bersila, penuh telanjang, menjepit sebatang rokok yang belum dinyalakn di antara jemarinya)
Semua ini tentang kesedihanku, terperangkap di istana ini, berdandan, mematut-matut diri di cermin dengan lingerie yang selalu baru untuk menyita perhatianmu, berusaha kerasa melahap pengetauan bersetubuh dengan gaya baru untukmu. Namun, kita bukan suami-istri, aku hanya simpananmu….
(Tampak ia mengusap ujung dadanya dengan punggung tangannya)
Aku benci kenapa aku harus mengingat-ingat, kenapa aku tak boleh lupa bahwa aku hanya simpananmu. Dilarang keras bergandengan mesra denganmu di keramaian, tidak kau bawa di undangan teman-temanmu, kau hanya menyimpanku baik-baik di sini, tak boleh terjamah selain kau, mesti selalu segar dan merangsangmu. Setiap kali kau mau. Aku hanya ingin kau ada kali ini, lalu kita bercakap, agar kau tau ini real, rasa sakitku nyata.
( Ia tertunduk, mengusap pelan sudut matanya yang mulai basah)
Terdengar suara berdecit,ia menekan tombol fastforward tanpa melepaskan tombol play-nya. Lalu berhenti di sebuah gambar:
Di LCD
(Ia menyelipkan paha laki-laki berumur lima puluh lima tahun itu di pangkal antara dua kakinya yang mulus, keduanya penuh telanjang)
Aku kesepian, aku telah kehilangan banyak hal. Kau tidak pernah mengenal rasa kehilangan.
(Tangan laki-laki itu meremas dadanya, seakan gemas, tak habis-habis, kemudian tangan itu tinggal di putingnya)
Kau punya segalanya kini, manisku.
(Ia merapatkan tubuhnya , lebih dekat ke dada laki-laki itu)
Tapi aku tidak memilikimu.
(laki-laki itu sedikit gusar, ia meraih selimut, pejamkan mata, tak bersemangat)
Bukankah ku penuhi segala kebutuhanmu?
(Merajuk, ia lebih merapat lagi)
Kau berjanji menikahiku, kita adalah sepasang kekasih kan? Atau aku hanya simpananmu saja?
(Laki-laki itu lebih gusar lagi, menggeser tubuhnya agar menjauh)
Menikah? Kau setuju begini sajakan pada awalnya? Kenapa tiba-tiba minta dinikahi? Cobalah realistis, Elsya. Yang penting tidak ada wanita lain. Selain kau, hanya istriku. Aku tidak bisa menceraikannya, Elsya, itu tidak masuk akal. Ah, matikan kamera itu, aku tidak suka kau merekam!
(Segera ia membelakangi laki-laki itu, hatinya patah, bukan untuk merajuk)
Lebih baik aku kembali menyanyi di club, tak seorangpun memiliki aku , juga tak seorangpun yang kumiliki. Itu lebih adil.
(Laki-laki itu terkejut, tak menduga, cepat saja laki-laki itu meraih tubuhnya, menyibak selimut, meloncat ke atasnya kemudian menindihnya)
Tenang, manis. Jangan kembali ke club, baiklah, aku akan pikirkan hal ini. Kita akan menikah……maka jadilah pengantinku malam ini……
(kemudian dua tubuh itu saling bertindihan dan terguncang di balik selimut yang dibalutkan dan terdengar suara ranjang mewah yang seharusnya tidak berderit)
Ia menekan tombol stop dengan mata yang merah dan basah. Gambar itu sembilan minggu yang lalu, ia ambil sebelum laki-laki itu tak berkabar.
Kemudian ia bangkit lalu membuka jendela apartemennya, langit meredup dengan cakrawala bernuansa sephia, menantang gedung-gedung tinggi yang menyinarkan lampunya. Ah, seakan ia berdiri di tengah panggung, suara beat yang berdetak meruntuhkan jantung, suara-suara sintetik. Cahaya berwarna merkuri menerpa sebagian wajahnya. Cantik wajah itu cemerlang, namun matanya hampa. Tubuhnya seperti bidadari yang terluka, perlahan berubah menjadi seekor serangga yang siap membenturkan dirinya pada nyala yang panas.
Nyanyian itu memerangkapnya begitu rupa, ia mulai mengulang-ngulang sebuah bait, seperti meracau, seperti menjerit, seperti berteriak, tercekat berulang kali kemudian ia sungguh tercekik. Lalu ia jatuh di pinggiran ranjang dengan sengal napas dalam telungkup tubuhnya. Ia tampak begitu kesakitan.
Namun ia segera bangkit melupakan rasa sakitnya, melakukan ritual di depan cermin, sangat berhati-hati bagaikan sebuah upacara. Membubuhkan bedak penuh khidmat, sekali lagi ia terpenjara dalam perasaannya sendiri. Sambil bersenandung ia mengusap pelan wajahnya, lehernya dadanya, putting susunya. Ia berdiri, menari-nari, berputar, meliuk dengan sangat erotis. Ketika selesai lagunya dinyanyikan, ia kelelahan, terengah-engah seperti terpuaskan berkali-kali. Kembali ia menatap wajahnya di cermin yang selalu saja menjadi semakin asing, siapakah perempuan di cermin ini? Tak usah perduli, kepulkan saja asap rokokmu, tebalkan, agar kau tak lihat siapa ia.
Kau hanya perlu tidur panjang, Elsya. Perempuan malang, tidurlah agar berhenti juga kau rasakan deritamu. Dalam lelapmu nanti, kau akan terbebas dari segala nelangsa.
Ia meraih gaun putih berdada rendah, mengenakannya. Seketika tampil seorang perempuan matang yang begitu menawan, begitu berkelas, begitu anggun. Tapi perempuan ini nyata-nyata begitu rapuh, seperti gerabah. Sebenarnya ia tak ingin banyak hal, hanya ingin meraih cinta yang belum pernah ada dalam hidupnya. Tetapi yang tinggal adalah segerombolan serigala liar yang berkeliling di sekitarnya, siap menerkam dan menikmati cabikan tubuhnya. Serigala yang paling kejam adalah James, wajah pria itu muncul dengan tubuh binatang. James, pemilik club. Ia menyanyi di club sekaligus menjadi pemuas hasrat James, menyusul jadi santapan bagi serigala lain yang kelaparan, sahabat-sahabat dan tamu-tamu si pemilik club.
Lalu seseorang datang laksana penyelamat, menebusnya dari club setahun ini, menafkahi keluarganya, mengikatnya. Dan cinta datang kemudian, pada laki-laki yang telah beristri dan tidak mungkin dapat menikahinya atas dasar sebuah nama baik. Namun bila laki-laki itu beranjak darinya, maka sebagian dirinya akan mati.
Ia meletakkan kamera pada tripodnya, duduk bersila di atas ranjang berhadapan dengan kameranya. Gaun putih menutup lembut seluruh tubuh mulusnya, hanya pucuk dadanya yang mengeras mengintip dari sebalik gaunnya. Wajahnya pucat, namun sangat pasrah, berjuta gurat lelah akan pedih masih jelas terlukis, takkan terhapus.
Di viewfinder kamera itu, terlihat ia menggenggam remote. Lalu ia mulai merekam:
“Ini adalah kesedihanku yang kesekian, ketika tak juga aku dapat bangkit dan membuat hatiku menjadi lebih kuat. Aku terlalu letih untuk mengarungi hidup ini selanjutnya. Kepada yang mencintaiku, maafkan aku karena rapuhku, karena dendamku pada masa lalu yang melukaiku, juga karena cintaku pada seorang laki-laki yang tak dapat kutanggungkan sendirian. Hatiku tak cukup luas untuk menampung cinta ini, aku tak bisa hidup dengan laki-laki tanpa cinta pun tak bisa hidup tanpanya. Selalu saja cintaku tumbuh di tempat yang salah. Sungguh aku patah lagi. Maafkan atas salahku ini, yang kusadari namun sangat terlambat.”
Kamera itu masih menangkap gambar saat ia menenggak air putih benyak-banyak tiap kali setelah menjejalkan sejumlah dari puluhan butir obat tidur ke mulutnya, sampai botol itu kosong. Lalu mengucapkan sesuatu sebelum merebahkan dirinya dengan lembut di atas ranjang dan memejamkan matanya. Begitu rela. Aku bukan seorang tawanan lagi.
Kamera itu belum berhenti merekam, beberapa saat yang terdengar hanya desiran angin yang menyentuh tirai dari jendela yang masih terbuka. Kemudian dering telepon berbunyi, setelah answering machine menjawab, menggema jernih suara seorang laki-laki:
Angkat teleponmu, Elsya sayang. Aku tahu kau ada di kamarmu. Angkat sayang maafkan aku untuk menghilang selama ini setelah pertengkaran besar dengan istriku . Hubungan kita ketahuan sayangku dan ia minta bercerai, rupanya Tuhan mengabulkan doamu (laki-laki itu tertawa).
Elsya, sayangku, manisku..kau dengar aku kan? Plis angkat teleponmu , bidadariku. Kita bisa merencanakan pernikahan kita, aku akan datang esok hari dan kan kita habiskan sepanjang waktu untuk bercinta. Elsya…Elsya..Elsya…..
Suara itu makin melemah, seirama denyut nadi perempuan yang terbaring di atas ranjang berlapis sutra. Lalu suara itu menghilang seiring buih putih yang mengalir di sudut bibirnya. Elsya benar-benar tidur kini, sempurna lepas dari seluruh yang menawan dirinya.*
Susy Ayu, Februari 2011
(Sketsa Ipe Maaruf dimuat dalam buku kumcer "Perempuan Di Balik Kabut")
Kini ia menatap cermin, keningnya basah oleh peluh, disapunya perlahan menyusuri leher lalu berhenti di dadanya yang masih saja bergantung indah, entah sudah berapa laki-laki yang pernah meningalkan jejak samar di sana selain seorang anaknya. Ada guratan sangat halus nyaris tak terlihat di ujung kedua matanya, namun masih saja tampak indah untuk gambaran seorang perempuan berusia di atas tiga puluh tahun. Cerlang matanya meredup, ada warna gelap di kantung matanya, wajahnya kusut, ah…ia terlalu banyak minum semalam. Namun hanya dari situ ia mendapatkan gelora, gairah untuk terus bertahan dan menikmati keutuhan cintanya pada laki-laki itu yang sering datang sebagai bayang-bayang dari pada kenyataan.
Tubuh putihnya yang setengah telanjang menggeser perlahan, meraih setumpuk surat yang belum lagi dibaca. Ia sudah tahu apa isinya tanpa perlu membukanya. Kabar tentang ayah ibunya yang sudah renta di kampung, bibinya, kakaknya, seorang anaknya, kemudian sederetan angka-angka yang mesti ia kirimkan untuk menghidupi semua orang tercinta itu. Perasaan nelangsa , kesepian dan kemarahan yang terpendam begitu rupa membuat ia tidak bersemangat untuk memikirkan siapapun. Mengapa ia biarkan dirinya terlanda damba cinta dan hangat seperti ini? Seharusnya tak perlu, hanya bikin siksa.
Sebelah kakinya bersila di atas kursi, g-stringnya merebak, sekali saja seakan tanpa sengaja ia usap belahan di antara dua pangkal pahanya, basah. Andai saja ia masih berhak menerima setiap pria yang menginginkannya, tentu tak perlu merasa kesepian. Banyak hal yang bisa membuatnya lupa akan pedihnya, paling tidak ia tidak akan pernah merasakan sungguh-sungguh sendirian. Walau mungkin semu.
Genap delapan minggu tanpa laki-laki itu, tanpa pertarungan bersimbah keringat, tanpa pergumulan yang disudahi dengan jeritan panjangnya. Bangsat betul! Laki-laki itu menyimpannya untuk dinikmati sendiri, juga disimpan untuk diasingkan, tak terjamah, tak tersentuh. Delapan kali minggu laki-laki itu mengingkari janjinya, tiada kabar, tiada pesan yang tertinggal. Semua sms yang ia kirimkan ber- report: pending. Hanya suara perempuan yang diatur secara otomatis menyambut suaranya. Halo…halo…. Aku lelah! Aku lelah hidup seperti ini. Nikahi aku saja atau lepaskan aku kembali ke tengah malam.
Untuk kesekian kali ia pandangi wajahnya di cermin, meraih sebatang rokok, membakarnya. Seperti iseng, ia mencore-coret wajahnya dengan kosmetik, berusaha terus menerus mengganti identitasnya. Ia melakukannya sambil terus merokok, tiap satu coretan ia berhenti, mengamati lekat-lekat wajah yang terpantul dari cermin. Siapa ini? Akukah? Seperti apa aku ini? Namun tiap kali ia berhenti dan memandang dirinya sendiri yang tertangkap hanya kepulan tipis asap rokok seperti tirai di hadapan wajahnya. Menangakap bayangan wajahnya sendiripun tak lagi bisa, dan ia tak perduli. Enyahlah kau perempuan malang di dalam cermin! Makin ia tebalkan asap itu, terus menerus hingga kamarnya putih kelabu, sampai ia terhenti sebab kepulan asap itu seperti jemari yang menyekik lehernya.
Ia menyeret langkahnya tanpa semangat, membungkuk meraih tas di kolong ranjang dan mengeluarkan sebuah handycam dari dalam tasnya. Kemudian ia memutarnya, di displaynya terlihat wajahnya sendiri, pada waktu yang lain.
DI LCD
(Ia duduk di atas ranjang, bersila, penuh telanjang, menjepit sebatang rokok yang belum dinyalakn di antara jemarinya)
Semua ini tentang kesedihanku, terperangkap di istana ini, berdandan, mematut-matut diri di cermin dengan lingerie yang selalu baru untuk menyita perhatianmu, berusaha kerasa melahap pengetauan bersetubuh dengan gaya baru untukmu. Namun, kita bukan suami-istri, aku hanya simpananmu….
(Tampak ia mengusap ujung dadanya dengan punggung tangannya)
Aku benci kenapa aku harus mengingat-ingat, kenapa aku tak boleh lupa bahwa aku hanya simpananmu. Dilarang keras bergandengan mesra denganmu di keramaian, tidak kau bawa di undangan teman-temanmu, kau hanya menyimpanku baik-baik di sini, tak boleh terjamah selain kau, mesti selalu segar dan merangsangmu. Setiap kali kau mau. Aku hanya ingin kau ada kali ini, lalu kita bercakap, agar kau tau ini real, rasa sakitku nyata.
( Ia tertunduk, mengusap pelan sudut matanya yang mulai basah)
Terdengar suara berdecit,ia menekan tombol fastforward tanpa melepaskan tombol play-nya. Lalu berhenti di sebuah gambar:
Di LCD
(Ia menyelipkan paha laki-laki berumur lima puluh lima tahun itu di pangkal antara dua kakinya yang mulus, keduanya penuh telanjang)
Aku kesepian, aku telah kehilangan banyak hal. Kau tidak pernah mengenal rasa kehilangan.
(Tangan laki-laki itu meremas dadanya, seakan gemas, tak habis-habis, kemudian tangan itu tinggal di putingnya)
Kau punya segalanya kini, manisku.
(Ia merapatkan tubuhnya , lebih dekat ke dada laki-laki itu)
Tapi aku tidak memilikimu.
(laki-laki itu sedikit gusar, ia meraih selimut, pejamkan mata, tak bersemangat)
Bukankah ku penuhi segala kebutuhanmu?
(Merajuk, ia lebih merapat lagi)
Kau berjanji menikahiku, kita adalah sepasang kekasih kan? Atau aku hanya simpananmu saja?
(Laki-laki itu lebih gusar lagi, menggeser tubuhnya agar menjauh)
Menikah? Kau setuju begini sajakan pada awalnya? Kenapa tiba-tiba minta dinikahi? Cobalah realistis, Elsya. Yang penting tidak ada wanita lain. Selain kau, hanya istriku. Aku tidak bisa menceraikannya, Elsya, itu tidak masuk akal. Ah, matikan kamera itu, aku tidak suka kau merekam!
(Segera ia membelakangi laki-laki itu, hatinya patah, bukan untuk merajuk)
Lebih baik aku kembali menyanyi di club, tak seorangpun memiliki aku , juga tak seorangpun yang kumiliki. Itu lebih adil.
(Laki-laki itu terkejut, tak menduga, cepat saja laki-laki itu meraih tubuhnya, menyibak selimut, meloncat ke atasnya kemudian menindihnya)
Tenang, manis. Jangan kembali ke club, baiklah, aku akan pikirkan hal ini. Kita akan menikah……maka jadilah pengantinku malam ini……
(kemudian dua tubuh itu saling bertindihan dan terguncang di balik selimut yang dibalutkan dan terdengar suara ranjang mewah yang seharusnya tidak berderit)
Ia menekan tombol stop dengan mata yang merah dan basah. Gambar itu sembilan minggu yang lalu, ia ambil sebelum laki-laki itu tak berkabar.
Kemudian ia bangkit lalu membuka jendela apartemennya, langit meredup dengan cakrawala bernuansa sephia, menantang gedung-gedung tinggi yang menyinarkan lampunya. Ah, seakan ia berdiri di tengah panggung, suara beat yang berdetak meruntuhkan jantung, suara-suara sintetik. Cahaya berwarna merkuri menerpa sebagian wajahnya. Cantik wajah itu cemerlang, namun matanya hampa. Tubuhnya seperti bidadari yang terluka, perlahan berubah menjadi seekor serangga yang siap membenturkan dirinya pada nyala yang panas.
Nyanyian itu memerangkapnya begitu rupa, ia mulai mengulang-ngulang sebuah bait, seperti meracau, seperti menjerit, seperti berteriak, tercekat berulang kali kemudian ia sungguh tercekik. Lalu ia jatuh di pinggiran ranjang dengan sengal napas dalam telungkup tubuhnya. Ia tampak begitu kesakitan.
Namun ia segera bangkit melupakan rasa sakitnya, melakukan ritual di depan cermin, sangat berhati-hati bagaikan sebuah upacara. Membubuhkan bedak penuh khidmat, sekali lagi ia terpenjara dalam perasaannya sendiri. Sambil bersenandung ia mengusap pelan wajahnya, lehernya dadanya, putting susunya. Ia berdiri, menari-nari, berputar, meliuk dengan sangat erotis. Ketika selesai lagunya dinyanyikan, ia kelelahan, terengah-engah seperti terpuaskan berkali-kali. Kembali ia menatap wajahnya di cermin yang selalu saja menjadi semakin asing, siapakah perempuan di cermin ini? Tak usah perduli, kepulkan saja asap rokokmu, tebalkan, agar kau tak lihat siapa ia.
Kau hanya perlu tidur panjang, Elsya. Perempuan malang, tidurlah agar berhenti juga kau rasakan deritamu. Dalam lelapmu nanti, kau akan terbebas dari segala nelangsa.
Ia meraih gaun putih berdada rendah, mengenakannya. Seketika tampil seorang perempuan matang yang begitu menawan, begitu berkelas, begitu anggun. Tapi perempuan ini nyata-nyata begitu rapuh, seperti gerabah. Sebenarnya ia tak ingin banyak hal, hanya ingin meraih cinta yang belum pernah ada dalam hidupnya. Tetapi yang tinggal adalah segerombolan serigala liar yang berkeliling di sekitarnya, siap menerkam dan menikmati cabikan tubuhnya. Serigala yang paling kejam adalah James, wajah pria itu muncul dengan tubuh binatang. James, pemilik club. Ia menyanyi di club sekaligus menjadi pemuas hasrat James, menyusul jadi santapan bagi serigala lain yang kelaparan, sahabat-sahabat dan tamu-tamu si pemilik club.
Lalu seseorang datang laksana penyelamat, menebusnya dari club setahun ini, menafkahi keluarganya, mengikatnya. Dan cinta datang kemudian, pada laki-laki yang telah beristri dan tidak mungkin dapat menikahinya atas dasar sebuah nama baik. Namun bila laki-laki itu beranjak darinya, maka sebagian dirinya akan mati.
Ia meletakkan kamera pada tripodnya, duduk bersila di atas ranjang berhadapan dengan kameranya. Gaun putih menutup lembut seluruh tubuh mulusnya, hanya pucuk dadanya yang mengeras mengintip dari sebalik gaunnya. Wajahnya pucat, namun sangat pasrah, berjuta gurat lelah akan pedih masih jelas terlukis, takkan terhapus.
Di viewfinder kamera itu, terlihat ia menggenggam remote. Lalu ia mulai merekam:
“Ini adalah kesedihanku yang kesekian, ketika tak juga aku dapat bangkit dan membuat hatiku menjadi lebih kuat. Aku terlalu letih untuk mengarungi hidup ini selanjutnya. Kepada yang mencintaiku, maafkan aku karena rapuhku, karena dendamku pada masa lalu yang melukaiku, juga karena cintaku pada seorang laki-laki yang tak dapat kutanggungkan sendirian. Hatiku tak cukup luas untuk menampung cinta ini, aku tak bisa hidup dengan laki-laki tanpa cinta pun tak bisa hidup tanpanya. Selalu saja cintaku tumbuh di tempat yang salah. Sungguh aku patah lagi. Maafkan atas salahku ini, yang kusadari namun sangat terlambat.”
Kamera itu masih menangkap gambar saat ia menenggak air putih benyak-banyak tiap kali setelah menjejalkan sejumlah dari puluhan butir obat tidur ke mulutnya, sampai botol itu kosong. Lalu mengucapkan sesuatu sebelum merebahkan dirinya dengan lembut di atas ranjang dan memejamkan matanya. Begitu rela. Aku bukan seorang tawanan lagi.
Kamera itu belum berhenti merekam, beberapa saat yang terdengar hanya desiran angin yang menyentuh tirai dari jendela yang masih terbuka. Kemudian dering telepon berbunyi, setelah answering machine menjawab, menggema jernih suara seorang laki-laki:
Angkat teleponmu, Elsya sayang. Aku tahu kau ada di kamarmu. Angkat sayang maafkan aku untuk menghilang selama ini setelah pertengkaran besar dengan istriku . Hubungan kita ketahuan sayangku dan ia minta bercerai, rupanya Tuhan mengabulkan doamu (laki-laki itu tertawa).
Elsya, sayangku, manisku..kau dengar aku kan? Plis angkat teleponmu , bidadariku. Kita bisa merencanakan pernikahan kita, aku akan datang esok hari dan kan kita habiskan sepanjang waktu untuk bercinta. Elsya…Elsya..Elsya…..
Suara itu makin melemah, seirama denyut nadi perempuan yang terbaring di atas ranjang berlapis sutra. Lalu suara itu menghilang seiring buih putih yang mengalir di sudut bibirnya. Elsya benar-benar tidur kini, sempurna lepas dari seluruh yang menawan dirinya.*
Susy Ayu, Februari 2011
(Sketsa Ipe Maaruf dimuat dalam buku kumcer "Perempuan Di Balik Kabut")
Selasa, 08 Mei 2012
NOTA PERKAWINAN
I. PA
AKU bisa merasakannya. Ia mengelus sepanjang sumsum tulang belakangku dan tiap kali ia bergerak sebentuk rasa lelah merayapiku. Aku membayangkan ribuan sel yang bertarung satu sama lain. Sementara pertempuran itu sendiri sesungguhnya tidak memenangkan apapun. Sayangnya, aku hanya bisa sekarat dengan seorang istri yang khianat.
“Pa, dengarkan, kau akan segera mati, tapi jangan takut!” katanya sambil menggenggam tanganku. Matanya pasti.
Aku menoleh padanya. Tersenyum mungkin, aku tak tahu benar. Tapi dengan tatapan mataku, aku mencoba mengiyakan kata-katanya. Aneh, menjelang mati, orang menjadi sangat sabar. Sebagian kedirianku sudah berpindah ke matra lain, dan ia belum pernah sekarat sekalipun. Ia cuma istriku, yang bertambah demikian ranum pada usia tiga puluh enamnnya dengan mulut yang kebetulan manis. Juga pintar dengan banyak cara bersenang-senang. Bagaimana mungkin ia bicara tentang keberanian dan ketakutan yang bisa hadir sesudah kematian? Tapi menjelang maut, orang sudah terlalu lelah untuk berbantahan. Demikian juga aku.
“Aku baik-baik saja. Percayalah”, lalu, agar dramatis, kukutip sebuah sajak, “Kematian cuma selaput gagasan yang gampang diseberangi.1” Mungkin aku cuma berpikir aku mengatakan itu. Mungkin suaraku tidak lagi terdengar. Satu hentakan napas lagi, aku akan menjadi batu meteor yang menghempas ke pusat daya tarik dan menyediakan diri untuk terbakar punah. Tanpa aduh dengan sejumlah alat pemantau organ dijejalkan ke tubuhku.
Di sisi ranjangku, istriku terhenyak mundur dalam kengerian. Mereka yang pernah sekarat akan tahu, melihat seseorang yang begitu menderita menyaksikan proses itu jauh lebih menyakitkan daripada menempuh sekarat itu sendiri.
Memikirkan istriku membuatku diserang perasaan malu, sebab sesungguhnya, ia adalah orang yang paling kubenci sepanjang hidupku. Satu-satunya orang yang lebih buruk dari sekawanan serigala untuk berjaga di sisi ranjang kematianku. Tapi sakit yang mengalihkan penderitaanku itu cuma membuktikan bahwa aku peduli pada derita dan bahagianya. Aku merasa amat hina untuk mempunyai perasaan itu, dalam pergulatan dengan maut yang akan membebaskanku dari cinta dan benci, aku mencoba melawan perasaan peduliku padanya.
Kurasakan istriku tersentak dan melepaskan genggamannya. Di sisi ranjang, kulihat ia membekap mulutnya dan dengan mata penuh belas kasih yang terhunjam-hunjam kengerian, kulihat ia merapalkan doa. Dan doa, terutama bila itu doa yang keluar dari mulutnya, bagiku adalah doa paling terkutuk yang pernah terjadi di kolong langit. Aku menjerit sejadinya untuk menolakkan itu. ***
II. MA
Cuma senggama yang bisa menghasilkan gerakan lebih baik dari ini. Beberapa di antaranya mengingatkanku pada itu. Punggungnya melengkung ke atas ranjang, matanya membeliak dan setetes air mengambang di sudut matanya. Dan cengkeraman jari-jarinya, ah! Aku merapatkan kedua kakiku. Mencari sesuatu. Sungguh tidak sopan, kataku sendiri dalam hati. Tapi aku tidak sanggup menahankan perasaan ini, meskipun aku seorang istri baik-baik. Dan di usiaku yang ketiga puluh enam, susuku masih sekencang delima, hanya saja dengan suami megap-megap macam ini aku merasa agak tersinggung. Tapi ia sekarat, aku bisa melihatnya.
Perasaanku berdebar. Di balik pintu, kekasihku menunggu dengan simpati yang sempurna. Selama suamiku menarik napasnya satu-satu dalam delapan belas jam ini, ia telah menyentuhkan telapak tangannya yang terasa hangat empat kali ke pinggulku, meremasnya, tiap kali aku beranjak untuk mengistirahatkan diriku sendiri ke luar ruangan. Ia tahu itu menciptakan perasaan riang yang bergelora dalam diriku.Usianya dua puluh tujuh tahun. Mengingat staminanya yang kuukur secara rahasia dalam penyelinapan-penyelinapan kami, aku bisa merasakan, waktu sekaratnya masih akan lama lagi.
Tapi pikiran itu membuatku mendengus. Dua belas tahun lalu yang lalu, aku berpikir begitu juga atas laki-laki dalam ruangan ini. Tapi lihatlah, sekali kau melihat rambutnya yang rontok dan menampakkan kulit kepalanya yang lunak kemerahan, praduga-pradugamu bisa saja salah, dan itu menjengkelkan. Aku begitu jengkel hingga aku harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Bila ia bertumpuk, maka keraknya akan menjadi dendam. Seperti juga hujan dan pengetahuan, dendam mengharuskanmu berbuat sesuatu. Tapi aku menjalankan tugasku dengan baik. Tatapanku selembut Cinderella, dan dengan itu aku mengusap keningnya, memandangnya penuh kasih, tak ada yang meragukannya, seorang pendeta sekalipun.
O ya, pendeta. Telah kusiapkan satu di sudut ruang. Ia membacakan doa-doa, untuk kematian yang pasti akan datang, untuk membebaskannya dan lebih-lebih, membebaskanku. Tak lupa, sambil kuseka keningnya, kubisikkan kata-kata lembut yang tak terdengar siapapun kecuali dia, bahwa kematian tidaklah semenakutkan itu. Akan hal kebenarannya, aku tidak peduli. Sungguh tidak sopan mempertanyakan kebenaran dalam saat semacam ini. Semua orang menjalankan perannya dengan baik. Juga dia, lihatlah! Sekaratnya meyakinkan. Kepura-puraan selalu membuatku bergairah. Arus kebencian itu menenangkanku. Ia laki-laki yang baik, tentu saja. Tapi cinta yang gagal selalu membuat semuanya pahit. Ingatan akan ranjang yang patah serta ciuman-ciuman yang panas di saat-saat awal pernikahan kami, gampang sekali pupus oleh sakit hati.
Aku menoleh sekeliling. Foto pernikahan kami di atas ranjang. Sejumlah peralatan yang menyumpal kepala dan urat nadinya, lalu juga sejumlah kartu ucapan di keranjang-keranjang yang berharap kematiannya tak sepasti ini. Ia orang penting. Tapi tak sepenting itu bila ia sudah menjadi mayat. Usai pemakaman dan tanda duka di ujung jalan, segalanya akan kembali seperti biasa. Pun cuaca tidak akan menunggu. Hidup terus berlangsung, dengan laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun di balik pintu yang bengalnya membangkitkanku.
Menikah, terlebih-lebih menikah dengan suamiku, adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Laki-laki gampang didapatkan, dan sering-sering berhadiah payung pula. Akan halnya sebab musabab kebencianku padanya, dan ketidaksopananku menceritakan ini semua, sungguh tidak tepat menceritakannya sekarang. Maafkan aku untuk melewatkan cerita semanis itu. Sebuah sentakan kuat menarik tanganku, kulihat ia menoleh dan membeliakkan matanya ke arahku lebar-lebar. Sedetik, aku bisa merasakan hawa kebencian yang telah kami pupuk bersama berseliweran di antara kami. Ah, terkesiap aku merasakan cerlangnya.
“Pa, tenanglah. Kuatlah. Kau begitu dikasihi oleh-Nya,” kataku lembut-lembut. Kupikir aku agak payah kali ini. Ia masih menatapku. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Pendeta mendongakkan kepalanya sejenak. Beberapa paramedik yang mendekat dengan agak panik kutahan dengan isyarat. “Sudah sampaikah?” tanyaku di telinganya. Tak seorangpun bisa mendengarnya. Pun aku tak yakin ia bisa mendengarku. Tapi kami disatukan kebencian. Dengan itu kami bertukar pesan dengan baik selama ini. Lalu sebuah guncangan kecil yang membuatku berpikir bahwa seseorang tengah mencekiknya beruntun hinggap seperti sebuah irama. Harus kuakui, harap-harap cemasku memuncak pada saat itu.
Aku istri yang baik. Tapi aku tidak bisa hidup dengan suami yang sekarat selama lebih dari lima tahun. Aku berhak untuk harap-harap cemas sekarang ini. Ah, orang berhak berpikir untuk berbahagia dalam situasi ini. Apalagi setelah sebuah upacara pemakaman yang megah.
Aku menatap matanya. Oh mata kebencian itu, dalam tatapan semacam ini tepat sebelum maut, kami disatukan. Kukuatkan tatapanku, tepat ke pupil matanya. Beberapa detik sebelum cerlang sinar kebenciannya meredup dan padam sama sekali, aku amat yakin bahwa ia tahu, aku tidak memaafkannya.
III. PA
Dengan sedih aku melihatnya menatapku tepat ke pupil mataku, seperti ia menatapku dulu, dua belas tahun yang lalu, dan merampas cintaku. Kuperas tiap jengkal kebencian dari seluruh sel-selku yang masih terus berbunuhan dengan sengit, berharap itu terpancar dari mataku, melesat sebagai anak panah, dan menghabisi cintanya. Tapi dengan lembutnya, ia meletakkan telapak tangannya kembali ke keningku. Di usapnya keringatku. Di dekatkannya mulutnya ke telingaku. Dirapalkannya doa, lambat-lambat, dan dijadikannya aku seekor babi yang dipanggang di atas api hidup-hidup.
Aku membencimu, Ma, jangan doakan aku. Biarkan aku mati dalam kebencian, sebab kebencianku padamu adalah satu-satunya hal yang memberi makna pada hidupku. Jangan pupus ini dengan cintamu, jangan jadikan hidupku sia-sia. Kupikir ia bisa membaca pikiranku. Tapi ia terus menatapku, seakan aku adalah satu-satunya hal yang bisa terjadi di dunia ini dan seluruh kediriannya berkerumun dalam tatapan matanya. Sementara rasa dingin itu menjalar dan membuncah di ubun-ubunku, kesimpulan-kesimpulanku mengabur bergelombang bersama seluruh sedih dan bahagia yang pernah terjadi dalam hidupku. Tergulung di dalamnya adalah rasa putus asa yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang sekarat, menanti tanda terakhir kebencian dari perempuan yang kunikahi dua belas tahun lalu, yang akan melengkapkan dendamku. Aku menunggu seperti Musa di bukit Sinai.
Tidak, Ma, jangan maafkan aku, jangan sekali-kali kaumaafkan kita. Tidak atas nama masa lalu, tidak atas nama anak-anak kita, tidak atas nama cinta, tidak atas nama hidup yang hendak berakhir, tidak atas nama masa depan. Tidak, Ma, jangan…***
Tepat dalam satu kerdipan mata setelah detik kematian laki-laki itu, dengan satu desis tajam penghabisan, istri yang kelelahan dan diserang rasa bosan yang cuma bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah berada dalam pernikahan itu membisikkan ini ke telinga suaminya: “Matilah kau, Pa, aku membencimu demikian hingga aku bersedia tulang sumsumku membusuk karenanya…”
Di balik pintu, laki-laki dua puluh tujuh tahun yang sanggup menerbitkan perasaan riang dalam diri Ma itu terpekur diam dengan ketakziman yang tak bisa kita pahami. ***
catatan kaki : [i] Daerah Perbatasan; Soebagyo Sastrowardoyo
Pernah dimuat di Suara Karya, 8 Oktober 2011
dan di dlm buku Kumpulan cerpenku "Perempuan Di Balik Kabut"
Minggu, 06 Mei 2012
Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai
(Cerpen ini pernah dimuat di harian "Fajar" Makassar, tgl 15 Feb 2009)
Kami selalu bercinta dengan hangat, tidak satupun dari kami yang meragukan hal itu. Berada di dekatnya selalu saja membangkitkanku tak habis-habis meski perkawinan kami sudah berusia tiga tahun. Kami selalu mengisi kesepian kami tanpa buah hati dengan keintiman yang bervariasi. Suatu ritual yang tidak pernah membosankan, selalu saja kami tanggap terhadap kejenuhan yang mulai menampakkan diri. Sehingga jenuh itupun terbunuh tanpa pernah tumbuh di antara kami.
Aku mencintai istriku, aku terlalu takut akan kehilangannya. Aku ingin memiliki seluruh perasaannya, jiwanya, bahkan pikirannya. Semua ini mungkin karena ketidakmampuanku memberinya keturunan. Ah, kami berdua tidak pernah ingin benar-benar tahu siapa diantara kami penyebab itu. Aku tidak berani memintanya ke dokter, aku tidak punya cukup keberanian untuk menerima kenyataan bahwa akulah yang bermasalah atas hal itu. Kami seakan melalui semua ini dengan baik-baik saja, dengan perasaan cinta dan bahagia yang tetap meluap-luap.
Kami berkencan lagi di sebuah hotel sepulang kantor malam ini, sambil berbaring di sampingku dengan memakai baju dalam yang belum pernah kulihat sebelumnya, dia membisikkan kalimat cintanya dengan sangat lembut . Hembusan nafasnya di telinga membuatku jatuh cinta selalu dan dibawanya aku terbang bersama karbondioksida yang melayang di udara.
Aku selalu ingin tahu apa yang ada di dalam hatinya, di dalam pikirannya. Takkan kubiarkan ia terdiam tanpa mencurahkan segalanya kepadaku. Terlebih lagi di saat cintaku bebas tertumpah seperti ini. Aku harus tahu setitik apapun yang ada dalam benaknya. Aku tidak ingin sakit hati melihat tatap matanya yang terkadang menerawang setelah menikmati percintaan.
“Aku ingin kita bercinta di tepi pantai, di bawah sinar bulan, di antara desir ombak, mas.”
Itu jawaban yang ia berikan setelah aku bertanya tentang isi kepalanya.
“Tapi aku membencimu tiap kali aku mengingat bahwa kau pernah melewati keintiman yang luar biasa indah itu bersama orang lain sebelumnya. Aku benci. Aku nggak suka!”
Percuma. Meski itu masa laluku, ia tidak pernah bisa menerimanya. Maka tiap kali gusarnya timbul, selalu kata maaf kupintakan padanya. Permintaan maaf karena belum mengenal dirinya kala itu.
“Bercinta di tepi pantai adalah impianku, mas. Penyatuan jiwa dan cinta dengan suasana yang begitu hangat. Hal itu terasa indah bila dilakukan dengan orang yang paling tercinta. Berpelukan mesra, saling berbisik, bercumbu dengan sayang....lalu kita bercinta dengan penuh gelora........”
Matanya menerawang lagi. Cerlang matanya hilang. Lalu kulihat ia menangis. “Aku benci dengan keinginan ini. Seharusnya kaupun belum pernah merasakannya, seperti aku. Tapi kau sudah...ini nggak adil. Percintaan yang paling romantis sudah pernah kau lakukan dengan orang lain. Aku benci, nggak tahan rasanya!”
“Sama halnya denganmu, kau tahu, aku ingin sekali kita bercinta terburu-buru di dalam mobil di bahu jalan tol. Setiap kali kita sedang bergairah sepulang kantor. Aku juga sama bencinya denganmu, kau sudah pernah melakukan itu dengan orang lain sebelumnya.”
Seharusnya aku tidak perlu terbawa arus kebenciannya terhadap masa laluku. Tetapi gugatannya membuatku harus membangkitkan hal yang sama di dalam diriku untuknya. Rasa benci akan masa lalunya. Kubakar hatiku juga, tiba-tiba terasa sama, karena aku menjadi demikian cemburu bahkan memendam amarah. Terasa sangat menjengkelkan harus merasakan seperti ini. Sebelumnya aku tidak pernah terlalu perduli soal masa lalunya, dengan siapa ia serahkan keperawanannya, bagaimana ia bercinta, dimana, seperti apa. Kemarahannya menyeretku untuk berbuat hal sama, mencari-cari kejadian di masa lalunya untuk dipersamakan dengan bencinya. Aku juga berhak punya rasa benci pada kisahnya. Dan betapa sangat mujarab, ia memelukku untuk meredakanku dan tentu saja untuk meredakan gusarnya sendiri.
********
Betapa aku mencintai suamiku. Tanpanya akan membuat seluruh diriku menjadi hampa saja. Aku ingin memiliki seluruh perasaannya, jiwanya, bahkan pikirannya. Sangat bisa dipastikan bahwa semua ini karena ketidakmampuanku memberinya keturunan. Ah, kami berdua tidak pernah ingin benar-benar tahu siapa diantara kami penyebab itu. Aku tidak berani memintanya ke dokter, aku tidak punya cukup keberanian untuk menerima kenyataan bahwa akulah yang bermasalah atas hal itu. Kami seakan melalui semua ini dengan baik-baik saja, dengan perasaan cinta dan bahagia yang setiap saat berusaha dibangun.
Kami berkencan lagi di sebuah hotel sepulang kantor malam ini, sambil berbaring di sampingnya dengan memakai baju dalam yang belum pernah ia lihat sebelumnya, aku membisikkan kalimat cintaku dengan sangat lembut . Aku senang menghembuskan nafasku di telinganya, aku menyukai caranya menikmati itu. Aku tahu, ia seperti melayang, dan dibawanya aku serta.
Aku harus tahu setitik apapun yang ada dalam benaknya, tahu apa yang ada di dalam hatinya, di dalam pikirannya. Takkan kubiarkan ia terdiam tanpa mencurahkan segalanya kepadaku. Terlebih lagi di saat cintaku bebas tertumpah seperti ini. Aku juga selalu makin sibuk oleh bayanganku sendiri, impian terindahku untuk bersamanya dalam suasana yang paling romantis. Bercinta di tepi pantai. Semakin dalam kurasakan cinta dan gairahku, semakin jauh aku menerawang ke belakang, ke masa dimana aku belum datang dalam kehidupannya. Tiba – tiba perasaan benci dan marah menyelusup titik demi titik dan makin membesar menjadi bulatan hitam yang kemudian pecah menghamburkan impian terindahku itu. Aku membencinya, karena ia tidak akan merasakan khidmat dan syahdunya sebuah percintaan paling romantis. Sudah tentu baginya bukan hal yang demikian, ia sudah pernah merasakan sebelumnya. Baginya itu bukan hal baru. Aku setengah mati membenci masa lalunya.
Tapi ia pintar sekali kembali menyerang gusarku, setelah kukatakan perihal impianku dan kemarahan yang besar itu, ia balas menyudutkanku dengan keinginannya untuk bercinta di tepi jalan tol. Ah, apa indahnya percintaan macam itu? Itu suatu ketergesa-gesaan yang sama sekali tidak membuat perasaan cinta dan kelembutan kasih sayang berkembang makin dalam. Hanya sensasi yang sesaat begitu saja, lalu hilang. Tak ada pemaknaan yang dalam akan sebuah hubungan yang didasarkan atas cinta dan kasih sayang. Tidak khidmat. Tidak syahdu. Sesungguhnya aku tidak terima jika disebandingkan dengan keinginan bercinta yang sangat romantis, di tepi pantai!.
Tapi aku bisa apa? Pintar sekali ia membungkam kesalku. Aku pun tidak berkutik ketika ia utarakan kesalnya karena hasrat besarnya itu pun telah aku alami bersama orang lain di masa yang lalu. Ah, ia sodorkan besar-besar skor 1-1 di mukaku. Aku hanya memeluknya, api ini berbahaya jika dibiarkan membesar. Aku pun takut ia terus menerus kesal oleh keinginan itu, seperti halnya aku.
*************
Percakapan kami di kamar hotel dua hari yang lalu ternyata bisa menjadi duri dalam daging pada putaran waktuku selanjutnya. Jantungku selalu berdegup lebih kencang tiap kali melintas di jalan tol. Keringat dinginku menguap dalam ruang sempit ber AC ini, pedal gas kuinjak kencang-kencang, tidak akan pernah kubiarkan aku melaju di sisi kiri, sebisa mungkin aku menjauh dari bahu jalan. Tapi aku tidak bisa menghentikan kembaraan pikiranku, di bahu jalan sebelah mana istriku pernah bercinta? Pertanyaan gila macam apa ini? Kulihat istriku duduk sedikit merebah, blusnya berdada rendah, betis putihnya terlihat semampai, sebelah lengannya mesra bersandar di pangkuanku. Ia tampak sangat lembut namun menantang, rusak lagi otakku, seperti ini pula ia dengan kekasihnya dahulu. Mereka pasti menjadi lebih mesra, saling meraba, berciuman, lalu menghentikan mobil di bahu jalan untuk menyelesaikan permainan dengan begitu tergesa-gesa, takut terjaring polisi, tapi juga penuh gelora dengan berbagai macam alasan untuk berdebar. Percintaan yang sangat fantastik. Aku ingin bercinta dengan istriku seperti itu. Tapi muncul juga perasaan marah karena ia sudah pernah sebelumnya, bagiku itu peristiwa besar yang memiliki sensasi sangat luar biasa. Aku membenci itu, semua pikiran dan bayanganku. Kutepiskan tangannya dari tengah pahaku, ia terkejut, aku memberi jawaban seadanya, “ Aku tergesa-gesa harus tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ini menggangguku, sayang.”
**********
Percakapan kami di kamar hotel dua hari yang lalu menjadi semacam duri yang menusukku berulang-ulang, dalam daging, kepala, jantung, setiap jengkal tubuhku. Anganku untuk bercinta di tepi pantai itu hadir semacam rasa yang menggilai isi kepalaku. Kami sungguh-sungguh berada sekarang di sini, di kota yang dikelilingi dengan pantainya yang indah. Kupikir ide cuti bersama ini dapat merekatkan kami lagi, setelah sekian lama makin parah kurasakan keinginanku itu.
Senja makin menjelang, seharusnya kami bisa menikmati. Menjengkelkan, kenapa tidak dari dulu kami bulan madu di tepi pantai, mungkin bayangan orang lain tidak separah ini? Tiba-tiba terasa asing ketika jemarinya merengkuh tubuhku, jemari suamiku sendiri. Bukan lagi gelora cinta yang hangat mengaliri tubuhku, tetapi api cemburu yang terasa membakar. Kutepiskan tangannya. Ternyata ia laki-laki yang pandai membaca isi kepalaku.
“Bagaimana caraku manghapus bayanganmu? Bukankah ini idemu untuk bercinta di pantai?” “Aku nggak bisa melanjutkan ini..pahamilah...” “Apa yang kamu mau kemudian?” “Aku ingin bercinta dengan orang lain di pantai...bukan denganmu! Ini impian terindahku, tetapi nggak adil, mas sudah merasakannya dengan orang lain. Perasaan kita nggak seimbang..aku nggak mau...nggak mau..” Memalukan...aku hampir histeris menangis. “Kita bisa bercinta di tempat yang lain, sayang. Jangan disini jika itu menyiksamu.....” “Tapi ini tempat terindah di muka bumi....aku ingin denganmu..dengan laki-laki yang paling aku cintai..tapi kau sudah pernah dengan orang lain sebelumnya. Tidak akan sama penerimaanmu akan keindahan ini..tidak akan sama dengan ku!” “Pilihlah laki-laki lain, bilang kalau kau sudah, dan segera kita wujudkan impianmu itu: bercinta di tepi pantai dengan laki-laki yang paling kau cintai..ah kau cintai kah aku? Begini caramu memperlakukan cinta kita?”
Terlambat, aku ingin meraih tangannnya. Ia sudah bangkit dari sisiku. Meski tidak keras dan kasar aku mendengar ia berkata ” kau tahu obsesi percintaanku yang belum terwujud denganmu? Di mobil, di pinggir jalan.....! Aku juga akan melakukan hal yang sama. Ini adilkan sayang?” Lalu ia mengecup keningku. Aku benar-benar sadar, semua ini memang harus segera diwujudkan...hanya itu yang ada di kepalaku kemudian.
*********
Aku muak. Aku hampir muntah. Perempuan yang ku tiduri di pesisir pantai ini bukan lagi istriku yang kukenal. Ia tentu sangat menikmati percintaan kami ini, tapi aku tidak. Betapa seluruh penerimaannya juga telah dinikmati laki-laki lain kemarin. Baru kemarin! Tentu di kepala istriku sekarang penuh dengan laki-laki lain itu. Dan..aku ingin muntah saja.....istriku juga ditiduri seperti ini. Bereaksi seperti ini, sehangat ini, sedalam ini. Lidah ombak yang membasahi kami tidak dapat menghapus jejak-jejak bekas tubuhnya kemarin. Pun pasir-pasir yang sama melekat di permukaan kulit licinnya ini. Butiran peluhnya, berpendar di bawah sinar bulan yang sama. Entah perasaan apa lagi yang mesti kubangun untuknya. Aku muak.
***************
Aku tidak tahu, apa yang dirasakan suamiku barusan. Jalan tol ini cukup lengang, terwujud sudah impiannya itu. Tapi aku mual, bukan karena perasaan tegang bercinta tanpa rasa aman. Tapi...entahlah....ia seperti bukan suamiku lagi. Ah, pasti seperti ini yang ia lakukan kemarin dengan perempuan lain itu. Begitu panas, terburu-buru, bergelora......Aku tiba-tiba membencinya, membenci ia pernah meniduri perempuan itu. Pasti yang ada di kepala suamiku hanyalah yang kemarin......Seperti apa perempuan itu? Pasti ia lebih... ......Hoeeeekkkkkkkkkkhh!!!!!!!! Aku muntah. Suamiku cuma melirik, dan aku membalasnya tajam.
**********
Sayang, maaf aku nggak bisa jemput kamu di kantor sore ini. Ada meeting dengan klienku di luar kota, mendadak. Aku nggak pulang. Kamu pake taxi aja yah? Sender: Mas +6281893XXXX Aku membaca sms suamiku sambil tersenyum, ah aku juga tidak berselera untuk bertemu dengannya hari ini.
***************
Nggak papa kok mas, Aku juga sudah pulang duluan. Mau arisan di rumah Ibu. Aku juga mau nginep tempat Ibu, sudah kangen. Sender: Yayank +62812138XXXX
Aku lega. Istriku tidak banyak bertanya. Kupikir perasaan kami sekarang betul-betul telah sama.
********* SELESAI **********
Bekasi, Februari 09 Susy Ayu
Kami selalu bercinta dengan hangat, tidak satupun dari kami yang meragukan hal itu. Berada di dekatnya selalu saja membangkitkanku tak habis-habis meski perkawinan kami sudah berusia tiga tahun. Kami selalu mengisi kesepian kami tanpa buah hati dengan keintiman yang bervariasi. Suatu ritual yang tidak pernah membosankan, selalu saja kami tanggap terhadap kejenuhan yang mulai menampakkan diri. Sehingga jenuh itupun terbunuh tanpa pernah tumbuh di antara kami.
Aku mencintai istriku, aku terlalu takut akan kehilangannya. Aku ingin memiliki seluruh perasaannya, jiwanya, bahkan pikirannya. Semua ini mungkin karena ketidakmampuanku memberinya keturunan. Ah, kami berdua tidak pernah ingin benar-benar tahu siapa diantara kami penyebab itu. Aku tidak berani memintanya ke dokter, aku tidak punya cukup keberanian untuk menerima kenyataan bahwa akulah yang bermasalah atas hal itu. Kami seakan melalui semua ini dengan baik-baik saja, dengan perasaan cinta dan bahagia yang tetap meluap-luap.
Kami berkencan lagi di sebuah hotel sepulang kantor malam ini, sambil berbaring di sampingku dengan memakai baju dalam yang belum pernah kulihat sebelumnya, dia membisikkan kalimat cintanya dengan sangat lembut . Hembusan nafasnya di telinga membuatku jatuh cinta selalu dan dibawanya aku terbang bersama karbondioksida yang melayang di udara.
Aku selalu ingin tahu apa yang ada di dalam hatinya, di dalam pikirannya. Takkan kubiarkan ia terdiam tanpa mencurahkan segalanya kepadaku. Terlebih lagi di saat cintaku bebas tertumpah seperti ini. Aku harus tahu setitik apapun yang ada dalam benaknya. Aku tidak ingin sakit hati melihat tatap matanya yang terkadang menerawang setelah menikmati percintaan.
“Aku ingin kita bercinta di tepi pantai, di bawah sinar bulan, di antara desir ombak, mas.”
Itu jawaban yang ia berikan setelah aku bertanya tentang isi kepalanya.
“Tapi aku membencimu tiap kali aku mengingat bahwa kau pernah melewati keintiman yang luar biasa indah itu bersama orang lain sebelumnya. Aku benci. Aku nggak suka!”
Percuma. Meski itu masa laluku, ia tidak pernah bisa menerimanya. Maka tiap kali gusarnya timbul, selalu kata maaf kupintakan padanya. Permintaan maaf karena belum mengenal dirinya kala itu.
“Bercinta di tepi pantai adalah impianku, mas. Penyatuan jiwa dan cinta dengan suasana yang begitu hangat. Hal itu terasa indah bila dilakukan dengan orang yang paling tercinta. Berpelukan mesra, saling berbisik, bercumbu dengan sayang....lalu kita bercinta dengan penuh gelora........”
Matanya menerawang lagi. Cerlang matanya hilang. Lalu kulihat ia menangis. “Aku benci dengan keinginan ini. Seharusnya kaupun belum pernah merasakannya, seperti aku. Tapi kau sudah...ini nggak adil. Percintaan yang paling romantis sudah pernah kau lakukan dengan orang lain. Aku benci, nggak tahan rasanya!”
“Sama halnya denganmu, kau tahu, aku ingin sekali kita bercinta terburu-buru di dalam mobil di bahu jalan tol. Setiap kali kita sedang bergairah sepulang kantor. Aku juga sama bencinya denganmu, kau sudah pernah melakukan itu dengan orang lain sebelumnya.”
Seharusnya aku tidak perlu terbawa arus kebenciannya terhadap masa laluku. Tetapi gugatannya membuatku harus membangkitkan hal yang sama di dalam diriku untuknya. Rasa benci akan masa lalunya. Kubakar hatiku juga, tiba-tiba terasa sama, karena aku menjadi demikian cemburu bahkan memendam amarah. Terasa sangat menjengkelkan harus merasakan seperti ini. Sebelumnya aku tidak pernah terlalu perduli soal masa lalunya, dengan siapa ia serahkan keperawanannya, bagaimana ia bercinta, dimana, seperti apa. Kemarahannya menyeretku untuk berbuat hal sama, mencari-cari kejadian di masa lalunya untuk dipersamakan dengan bencinya. Aku juga berhak punya rasa benci pada kisahnya. Dan betapa sangat mujarab, ia memelukku untuk meredakanku dan tentu saja untuk meredakan gusarnya sendiri.
********
Betapa aku mencintai suamiku. Tanpanya akan membuat seluruh diriku menjadi hampa saja. Aku ingin memiliki seluruh perasaannya, jiwanya, bahkan pikirannya. Sangat bisa dipastikan bahwa semua ini karena ketidakmampuanku memberinya keturunan. Ah, kami berdua tidak pernah ingin benar-benar tahu siapa diantara kami penyebab itu. Aku tidak berani memintanya ke dokter, aku tidak punya cukup keberanian untuk menerima kenyataan bahwa akulah yang bermasalah atas hal itu. Kami seakan melalui semua ini dengan baik-baik saja, dengan perasaan cinta dan bahagia yang setiap saat berusaha dibangun.
Kami berkencan lagi di sebuah hotel sepulang kantor malam ini, sambil berbaring di sampingnya dengan memakai baju dalam yang belum pernah ia lihat sebelumnya, aku membisikkan kalimat cintaku dengan sangat lembut . Aku senang menghembuskan nafasku di telinganya, aku menyukai caranya menikmati itu. Aku tahu, ia seperti melayang, dan dibawanya aku serta.
Aku harus tahu setitik apapun yang ada dalam benaknya, tahu apa yang ada di dalam hatinya, di dalam pikirannya. Takkan kubiarkan ia terdiam tanpa mencurahkan segalanya kepadaku. Terlebih lagi di saat cintaku bebas tertumpah seperti ini. Aku juga selalu makin sibuk oleh bayanganku sendiri, impian terindahku untuk bersamanya dalam suasana yang paling romantis. Bercinta di tepi pantai. Semakin dalam kurasakan cinta dan gairahku, semakin jauh aku menerawang ke belakang, ke masa dimana aku belum datang dalam kehidupannya. Tiba – tiba perasaan benci dan marah menyelusup titik demi titik dan makin membesar menjadi bulatan hitam yang kemudian pecah menghamburkan impian terindahku itu. Aku membencinya, karena ia tidak akan merasakan khidmat dan syahdunya sebuah percintaan paling romantis. Sudah tentu baginya bukan hal yang demikian, ia sudah pernah merasakan sebelumnya. Baginya itu bukan hal baru. Aku setengah mati membenci masa lalunya.
Tapi ia pintar sekali kembali menyerang gusarku, setelah kukatakan perihal impianku dan kemarahan yang besar itu, ia balas menyudutkanku dengan keinginannya untuk bercinta di tepi jalan tol. Ah, apa indahnya percintaan macam itu? Itu suatu ketergesa-gesaan yang sama sekali tidak membuat perasaan cinta dan kelembutan kasih sayang berkembang makin dalam. Hanya sensasi yang sesaat begitu saja, lalu hilang. Tak ada pemaknaan yang dalam akan sebuah hubungan yang didasarkan atas cinta dan kasih sayang. Tidak khidmat. Tidak syahdu. Sesungguhnya aku tidak terima jika disebandingkan dengan keinginan bercinta yang sangat romantis, di tepi pantai!.
Tapi aku bisa apa? Pintar sekali ia membungkam kesalku. Aku pun tidak berkutik ketika ia utarakan kesalnya karena hasrat besarnya itu pun telah aku alami bersama orang lain di masa yang lalu. Ah, ia sodorkan besar-besar skor 1-1 di mukaku. Aku hanya memeluknya, api ini berbahaya jika dibiarkan membesar. Aku pun takut ia terus menerus kesal oleh keinginan itu, seperti halnya aku.
*************
Percakapan kami di kamar hotel dua hari yang lalu ternyata bisa menjadi duri dalam daging pada putaran waktuku selanjutnya. Jantungku selalu berdegup lebih kencang tiap kali melintas di jalan tol. Keringat dinginku menguap dalam ruang sempit ber AC ini, pedal gas kuinjak kencang-kencang, tidak akan pernah kubiarkan aku melaju di sisi kiri, sebisa mungkin aku menjauh dari bahu jalan. Tapi aku tidak bisa menghentikan kembaraan pikiranku, di bahu jalan sebelah mana istriku pernah bercinta? Pertanyaan gila macam apa ini? Kulihat istriku duduk sedikit merebah, blusnya berdada rendah, betis putihnya terlihat semampai, sebelah lengannya mesra bersandar di pangkuanku. Ia tampak sangat lembut namun menantang, rusak lagi otakku, seperti ini pula ia dengan kekasihnya dahulu. Mereka pasti menjadi lebih mesra, saling meraba, berciuman, lalu menghentikan mobil di bahu jalan untuk menyelesaikan permainan dengan begitu tergesa-gesa, takut terjaring polisi, tapi juga penuh gelora dengan berbagai macam alasan untuk berdebar. Percintaan yang sangat fantastik. Aku ingin bercinta dengan istriku seperti itu. Tapi muncul juga perasaan marah karena ia sudah pernah sebelumnya, bagiku itu peristiwa besar yang memiliki sensasi sangat luar biasa. Aku membenci itu, semua pikiran dan bayanganku. Kutepiskan tangannya dari tengah pahaku, ia terkejut, aku memberi jawaban seadanya, “ Aku tergesa-gesa harus tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ini menggangguku, sayang.”
**********
Percakapan kami di kamar hotel dua hari yang lalu menjadi semacam duri yang menusukku berulang-ulang, dalam daging, kepala, jantung, setiap jengkal tubuhku. Anganku untuk bercinta di tepi pantai itu hadir semacam rasa yang menggilai isi kepalaku. Kami sungguh-sungguh berada sekarang di sini, di kota yang dikelilingi dengan pantainya yang indah. Kupikir ide cuti bersama ini dapat merekatkan kami lagi, setelah sekian lama makin parah kurasakan keinginanku itu.
Senja makin menjelang, seharusnya kami bisa menikmati. Menjengkelkan, kenapa tidak dari dulu kami bulan madu di tepi pantai, mungkin bayangan orang lain tidak separah ini? Tiba-tiba terasa asing ketika jemarinya merengkuh tubuhku, jemari suamiku sendiri. Bukan lagi gelora cinta yang hangat mengaliri tubuhku, tetapi api cemburu yang terasa membakar. Kutepiskan tangannya. Ternyata ia laki-laki yang pandai membaca isi kepalaku.
“Bagaimana caraku manghapus bayanganmu? Bukankah ini idemu untuk bercinta di pantai?” “Aku nggak bisa melanjutkan ini..pahamilah...” “Apa yang kamu mau kemudian?” “Aku ingin bercinta dengan orang lain di pantai...bukan denganmu! Ini impian terindahku, tetapi nggak adil, mas sudah merasakannya dengan orang lain. Perasaan kita nggak seimbang..aku nggak mau...nggak mau..” Memalukan...aku hampir histeris menangis. “Kita bisa bercinta di tempat yang lain, sayang. Jangan disini jika itu menyiksamu.....” “Tapi ini tempat terindah di muka bumi....aku ingin denganmu..dengan laki-laki yang paling aku cintai..tapi kau sudah pernah dengan orang lain sebelumnya. Tidak akan sama penerimaanmu akan keindahan ini..tidak akan sama dengan ku!” “Pilihlah laki-laki lain, bilang kalau kau sudah, dan segera kita wujudkan impianmu itu: bercinta di tepi pantai dengan laki-laki yang paling kau cintai..ah kau cintai kah aku? Begini caramu memperlakukan cinta kita?”
Terlambat, aku ingin meraih tangannnya. Ia sudah bangkit dari sisiku. Meski tidak keras dan kasar aku mendengar ia berkata ” kau tahu obsesi percintaanku yang belum terwujud denganmu? Di mobil, di pinggir jalan.....! Aku juga akan melakukan hal yang sama. Ini adilkan sayang?” Lalu ia mengecup keningku. Aku benar-benar sadar, semua ini memang harus segera diwujudkan...hanya itu yang ada di kepalaku kemudian.
*********
Aku muak. Aku hampir muntah. Perempuan yang ku tiduri di pesisir pantai ini bukan lagi istriku yang kukenal. Ia tentu sangat menikmati percintaan kami ini, tapi aku tidak. Betapa seluruh penerimaannya juga telah dinikmati laki-laki lain kemarin. Baru kemarin! Tentu di kepala istriku sekarang penuh dengan laki-laki lain itu. Dan..aku ingin muntah saja.....istriku juga ditiduri seperti ini. Bereaksi seperti ini, sehangat ini, sedalam ini. Lidah ombak yang membasahi kami tidak dapat menghapus jejak-jejak bekas tubuhnya kemarin. Pun pasir-pasir yang sama melekat di permukaan kulit licinnya ini. Butiran peluhnya, berpendar di bawah sinar bulan yang sama. Entah perasaan apa lagi yang mesti kubangun untuknya. Aku muak.
***************
Aku tidak tahu, apa yang dirasakan suamiku barusan. Jalan tol ini cukup lengang, terwujud sudah impiannya itu. Tapi aku mual, bukan karena perasaan tegang bercinta tanpa rasa aman. Tapi...entahlah....ia seperti bukan suamiku lagi. Ah, pasti seperti ini yang ia lakukan kemarin dengan perempuan lain itu. Begitu panas, terburu-buru, bergelora......Aku tiba-tiba membencinya, membenci ia pernah meniduri perempuan itu. Pasti yang ada di kepala suamiku hanyalah yang kemarin......Seperti apa perempuan itu? Pasti ia lebih... ......Hoeeeekkkkkkkkkkhh!!!!!!!! Aku muntah. Suamiku cuma melirik, dan aku membalasnya tajam.
**********
Sayang, maaf aku nggak bisa jemput kamu di kantor sore ini. Ada meeting dengan klienku di luar kota, mendadak. Aku nggak pulang. Kamu pake taxi aja yah? Sender: Mas +6281893XXXX Aku membaca sms suamiku sambil tersenyum, ah aku juga tidak berselera untuk bertemu dengannya hari ini.
***************
Nggak papa kok mas, Aku juga sudah pulang duluan. Mau arisan di rumah Ibu. Aku juga mau nginep tempat Ibu, sudah kangen. Sender: Yayank +62812138XXXX
Aku lega. Istriku tidak banyak bertanya. Kupikir perasaan kami sekarang betul-betul telah sama.
********* SELESAI **********
Bekasi, Februari 09 Susy Ayu
Langganan:
Postingan (Atom)


